JAKARTA – Benarkah orang malas justru memiliki IQ lebih tinggi? Anggapan ini kerap menjadi bahan perbincangan. Tak jarang muncul stereotip bahwa orang cerdas cenderung malas karena merasa terlalu pintar untuk melakukan pekerjaan fisik atau rutinitas sehari-hari. Namun, benarkah tingkat kecerdasan seseorang bisa diukur dari seberapa aktif atau rajin ia beraktivitas?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penting membedakan antara kecerdasan, motivasi, dan kebiasaan seseorang dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Berikut penjelasannya.
Melansir NS Development, salah satu mitos yang berkembang menyebutkan bahwa individu dengan IQ tinggi cenderung malas karena merasa kurang tertantang oleh tugas-tugas yang dianggap terlalu mudah. Anggapan ini kemungkinan muncul dari stereotip tentang sosok “jenius” yang lebih senang berpikir abstrak dibandingkan melakukan aktivitas rutin.
Namun, perlu dipahami bahwa IQ merupakan ukuran kemampuan kognitif, bukan indikator motivasi, etos kerja, atau semangat beraktivitas. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan bahwa tidak ada hubungan langsung antara tingkat kecerdasan dengan tingkat kemalasan atau aktivitas fisik seseorang.
Secara teori, IQ mengukur kemampuan mental dalam memahami informasi kompleks, memecahkan masalah, serta belajar dari pengalaman. Oleh karena itu, mengaitkan kecerdasan dengan tingkat aktivitas fisik sering kali merupakan generalisasi yang keliru.