SURAKARTA - Transisi menuju kendaraan ramah lingkungan menjadi salah satu topik yang dibahas dalam sesi Autotech iNews Media Group Campus Connect di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Kamis (21/5/2026). Konten kreator otomotif Ridwan Hanif turut memberikan edukasi kepada mahasiswa mengenai perkembangan New Energy Vehicle (NEV) seperti mobil hybrid dan kendaraan listrik.
Ridwan menjelaskan bahwa perubahan tren otomotif saat ini dipengaruhi kondisi geopolitik global, termasuk ketidakstabilan di kawasan Timur Tengah yang berdampak pada sektor energi dunia.
Ia mengatakan, salah satu materi yang dibahas dalam sesi tersebut adalah proses transisi energi yang kini mulai terjadi di industri otomotif global.
“Nah, sekarang kita sedang menghadapi ini (transisi energi), terutama kita lihat kondisi di Selat Hormuz dan lainnya. Kita seperti mengulang, tapi bedanya sekarang orang lebih ke bukan ke mesin yang lebih kecil, tapi kita lebih ke New Energy Vehicle seperti hybrid dan EV,” kata Ridwan.
Menurutnya, pergeseran tren kendaraan sebenarnya pernah terjadi pada era 1960-an hingga 1980-an. Saat itu, masyarakat mulai meninggalkan kendaraan berukuran besar dan boros bahan bakar menuju mobil yang lebih kecil dan efisien.
Ridwan mencontohkan kondisi di Amerika Serikat ketika mobil-mobil kecil asal Jepang awalnya dipandang sebelah mata. Namun, situasi berubah setelah terjadi krisis minyak yang membuat kendaraan hemat bahan bakar menjadi lebih diminati.
“Tapi ketika tahun 60-an akhir itu ada krisis minyak, tiba-tiba mereka shifting. Yang tadinya mobil-mobil besar, mobil-mobil boros, justru mobil-mobil Jepang yang kecil-kecil dan hemat bahan bakar itu malah jadi laku di sana,” ujarnya.
Selain membahas perkembangan teknologi otomotif, Ridwan juga mengapresiasi antusiasme mahasiswa UNS dalam mengikuti sesi diskusi tersebut. Ia menilai banyak mahasiswa sudah mulai memahami isu kendaraan listrik dan energi terbarukan.
“Saya senang banget karena ketika mereka sudah memiliki pengetahuan dan antusiasme tentang masa depan, itu menjadi pijakan yang baik untuk mereka ketika nanti mengambil spesialisasi atau bekerja di dunia industri,” tuturnya.
Ridwan juga mengingatkan mahasiswa agar tidak cepat merasa puas dengan pengetahuan yang dimiliki saat ini. Menurutnya, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat sehingga generasi muda perlu terus belajar dan memahami tren masa depan.
“Kalau kita tetap stuck dengan pengetahuan sekarang, kita akan ketinggalan. Jadi jangan pernah merasa cukup, selalu belajar dan selalu bisa memikirkan serta memprediksi masa depan,” pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)