Rektor BINUS University, Dr. Nelly, S.Kom., M.M., CSCA., menjelaskan bahwa perkembangan AI menuntut perguruan tinggi untuk tidak sekadar mengajarkan penggunaan teknologi, tetapi juga memastikan mahasiswa tetap memiliki kemampuan berpikir independen dan memahami konteks pemanfaatan teknologi secara tepat.
Kekhawatiran orang tua terkait penggunaan AI juga tercermin dalam berbagai survei. Hasil survei EdChoice 2025 menunjukkan 65 persen orang tua mendukung kampus untuk secara aktif mengajarkan penggunaan AI yang bertanggung jawab. Persentase tersebut bahkan meningkat menjadi 79 persen pada kelompok orang tua yang menyekolahkan anaknya di perguruan tinggi swasta.
Sementara itu, survei Echelon Insights terhadap 1.511 orang tua menemukan bahwa 56 persen responden percaya anak mereka aktif menggunakan AI. Namun, mereka juga menilai perlu adanya pengawasan dan batasan tertentu agar kemampuan analisis serta pemecahan masalah mahasiswa tetap terasah. Sebanyak 79 persen orang tua juga berharap dapat dilibatkan dalam penyusunan kebijakan terkait penggunaan AI di institusi pendidikan.
Kekhawatiran tersebut muncul karena kemudahan memperoleh jawaban instan melalui AI dinilai berpotensi mengurangi proses eksplorasi, analisis, dan pencarian solusi yang biasanya dilakukan secara mandiri.
Di sisi lain, kebutuhan industri juga terus berubah. Laporan Future of Jobs Report 2025 memperkirakan sekitar 39 persen keterampilan inti tenaga kerja akan mengalami perubahan pada 2030. Kemampuan seperti berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan adaptasi diprediksi menjadi semakin penting di tengah perkembangan teknologi.