Share

Mengenal Uswatun Hasanah, Alumnus FKIP UNS yang Kini Jadi Kepala Disdikbud Provinsi Jateng

Tim Okezone, Okezone · Senin 25 April 2022 22:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 25 65 2585135 mengenal-uswatun-hasanah-alumnus-fkip-uns-yang-kini-jadi-kepala-disdikbud-provinsi-jateng-mjFB0YIDlO.jpg Disdikbud Pemprov Jateng, Uswatun Hasanah (foto: dok UNS)

SOLO - Menggeluti dunia pendidikan dan kepenulisan secara bersamaan menuntunnya menuju anak tangga kesuksesan. Sosoknya yang memandang pendidikan sebagai sebuah kewajiban, tumbuh menjadi pembelajar yang tekun dan piawai menangkap peluang.

Kini, kariernya semakin cemerlang usai memperoleh amanah sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah. Ia adalah Dr. Uswatun Hasanah, S.Pd., M.Pd., alumnus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

 BACA JUGA:Membanggakan! Mahasiswa UNS Raih Medali Emas di Kompetisi Internasional Berkat Temuan Ini

Sebuah prestasi yang membanggakan bagi almamater. Posisi yang ia pijak saat ini sudah barang tentu melewati perjalanan yang panjang dan berliku. Kepada uns.ac.id, Dr. Uswatun Hasanah menceritakan jejak pengalamannya hingga sekarang memetik manisnya hasil perjuangan.

“Semuanya tidak lepas dari pengalaman saya saat masih kecil, masih remaja, didikan keluarga, apa yang saya dapatkan waktu kuliah S-1”, kata Dr. Uswatun Hasanah.

Belajar sebagai Modal Awal Kesuksesan

 

Semasa kecil, inspirasi Dr. Uswatun hadir dari figur kakak-kakaknya yang selalu berjuang menggapai kesuksesan. Mereka turut memiliki peran dalam menemukan renjana dan cara belajar yang cocok bagi Dr. Uswatun kala itu. Sistem yang ia terapkan kala itu adalah fokus 1 jam sehari dalam belajar.

 BACA JUGA:UNS Mewisuda 898 Wisudawan Periode II 2022 secara Luring dan Daring

Hasilnya sungguh menakjubkan. Dr. Uswatun yang semula berada pada peringkat 33 di kelasnya semasa SMA, dapat lulus dengan Daftar Nilai Ebtanas Murni (Danem) tertinggi se-kabupaten. Inilah yang menjadi awal mula kesuksesan Dr. Uswatun.

Berasal dari keluarga yang sederhana, putri bungsu dari sebelas bersaudara ini tidak menyia-nyiakan kesempatannya untuk berkuliah. Peluang untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi ini ia manfaatkan sebaik-baiknya. Dr. Uswatun menjatuhkan pilihannya untuk berkuliah ke FKIP UNS. Mengambil Program Studi (Prodi) S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Dr. Uswatun bercerita kalau ini menjadi tonggak awal kehidupan baginya kelak.

Bertahan di Tengah Keterbatasan Serta Aktif Berogranisasi

 

Ia turut menceritakan asam garam semasa kuliahnya. Pengalaman menghemat uang makan, berbagi pakaian dengan kakak, tinggal di indekos dengan biaya sewa tujuh ribu perbulan pernah ia alami. Namun, semua itu tak lantas membuatnya malu. Ia justru merasa bangga dan senang dapat melewati fase hidup yang cukup sulit.

“Yang paling berkesan adalah saat S-1, benar-benar menempa saya menjadi sosok pembelajar. Saya benar-benar diberikan kesempatan, dibuka peluang untuk belajar kepada siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Ternyata pengalaman kuliah di S-1 justru menjadi tonggak awal saya fighter kehidupan saya selanjutnya sampai sekarang,” ujarnya.

Dr. Uswatun tumbuh menjadi mahasiswa yang aktif di berbagai organisasi. Ia tergabung dalam Paduan Suara Mahasiswa (PSM) tingkat fakultas dan universitas, Himpunan Mahasiswa Prodi, hingga Teater Peron. Ia juga aktif menjadi pewara di berbagai acara, terutama saat wisuda.

Baginya, organisasi bukan tempat untuk mencari penghasilan, tapi sebagai wahana untuk menggembleng dirinya dengan berbagai pengalaman. Keterbatasan tidak membuat Dr. Uswatun Hasanah mengeluh atau putus asa. Justru semua itu malah memberikannya dorongan untuk terus bersemangat.

“Justru saya mendapatkan peluang dari keterbatasan. Andai saya tidak terbatas, mungkin saya tidak pandai menangkap peluang,” Kata Dr. Uswatun.

Karier sebagai Guru

 

Studinya ia selesaikan selama empat tahun dan lulus pada 1998. Kariernya berlanjut dengan mendaftar sebagai guru wiyata bakti selama satu semester pada tahun 1999. Ia kemudian lolos pada tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) pertamanya pada 2001. Penempatan kala itu di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Purwantoro, Kabupaten Wonogiri. Sekolah tersebut terbilang dekat dari rumahnya, berjarak hanya 2 kilometer.

Dr. Uswatun semasa menjadi guru menunjukkan kinerja yang baik dan maksimal. Banyak kontribusi yang ia berikan. Salah satunya adalah menciptakan dan mengaransemen mars empat sekolah di Wonogiri serta Mars Adiwiyata Nasional.

Dalam hal kepenulisan, ia dikenal dengan nama pena Uus Abdullah. Dr. Uswatun juga menulis beberapa cerpen, seperti Belik Mbak Jinem, Ir, Kuli, serta kumpulan cerpen Rumah Cahaya. Ia juga menulis buku dan puisi.

Dr. Uswatun memberikan tips dan resep jitu dalam memulai menulis. Ia sebagai seorang yang pernah menjadi fasilitator literasi nasional dan sosialisator Program Literasi Nasional tahun 2021 membagikan beberapa hal. Langkah pertama dalam memulainya adalah dengan menulis apa yang dipikirkan. Ia juga mengingatkan agar tidak terlalu banyak berpikir sehingga menjadi kesulitan.

“Apa yang kamu pikirkan, ya itu yang ditulis. Jangan berpikir tentang nanti ditertawakan, nanti kualitasnya (jelek). Tulis apa yang ingin kamu tulis. Mau jadi penulis yang pertama dilakukan jangan terlalu banyak berpikir, karena malah tidak akan ada pergerakan. Tulislah apa yang kamu pikirkan, maka itu nanti sudah memulai menulis,” ujarnya.

Prestasi turut ditorehkan pada beragam kompetisi. Dr. Uswatun meraih Juara 1 dalam Lomba Penulisan Artikel Kepustakaan Tingkat Provinsi tahun 2013, Juara 3 Lomba Solo Vokal Keroncong Tingkat Provinsi tahun 2012, Juara 1 Guru Berprestasi SMA Kabupaten Wonogiri tahun 2015, peringkat 7 Guru Berprestasi Tingkat Provinsi Jawa Tengah tahun 2015.

Kariernya yang semakin menanjak, pada tahun 2017, Dr. Uswatun mengembang amanah sebagai kepala sekolah hingga 2021. Kini, ia mengemban amanah baru sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah.

Dr. Uswatun juga melanjutkan studi jenjang S-2 dan S-3 di UNS. Menurutnya, pendidikan jangan dijadikan sebuah pilihan. Pendidikan adalah sebuah kewajiban. Ia menjadikan ilmu sebagai bekal perjalanan hidupnya dalam menghadapi berbagai tantangan.

“Saya memiliki filosofi takutlah pada rasa takut itu sendiri karena rasa takut itu justru mendekatkan pada sebuah kegagalan. Tidak punya rasa takut bukan berarti terlalu berani. Yakinlah setiap ada kendala sudah diciptakan solusi. Tinggal kita pendekatannya seperti apa,” pungkasnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini