Share

Heboh Mahasiswi di Jambi Hina Desa Tempatnya KKN, Sanksi Adatnya Mengejutkan

Azhari Sultan, Okezone · Rabu 01 Desember 2021 14:57 WIB
https: img.okezone.com content 2021 12 01 65 2510268 heboh-mahasiswi-di-jambi-hina-desa-tempatnya-kkn-sanksi-adatnya-mengejutkan-iRudphwtbS.jpg Mahasiswi yang menghina desa tempatnya KKN meminta maaf ke warga. (Foto: Azhari Sultan)

JAMBI – Sejumlah mahasiswi Universitas Jambi (Unja) viral akibat diduga menghina Desa Kubu Kandang, Batanghari, Jambi. Dalam video berdurasi 16 detik, terlihat mahasiswi mencela nama Desa Kubu Kandang tempat mereka menjalani kuliah kerja nyata (kukerta/KKN).

Desa tersebut berada di Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari, Jambi. Sedangkan video penghinaan direkam di suatu minimarket setempat.

Salah satu mahasiswi bercanda dengan rekannya dengan menyebut, “Woy-woy anak kubu, anak kubu, anak kubu, anak Kubu Kandang,” ujarnya sembari tertawa.

Video yang diunggah beberapa hari yang lalu di akun Instagram @Infobatanghari langsung mendadak heboh dan sampai ke warga Desa Kubu Kandang.

Akibatnya, warga dan Kepala Desa Kubung Kandang tersinggung dengan unggahan yang viral itu, sehingga menggelar musyawarah dan mengadakan sanksi denda sesuai adat.

Kepala Desa Kubu Kandang, Harun mendapati unggahan tersebut melalui pemuda desa dan tidak menyangka adanya tindakan kurang terpuji dari oknum mahasiswi.

“Saya melihat ini setelah videonya viral di medsos dari pemuda yang melaporkan kepada saya," ungkapnya beberapa waktu lalu.

Baca juga: Dosen Matematika ITB Ternyata Seorang Wibu, Hukum Mahasiswa Joget Idol Jepang

Selanjutnya, dia bersama tokoh pemuda, ketua adat dan perangkat desa segera melakukan musyawarah tentang silang sengketa antara mahasiswa kukerta dengan masyarakat desa Kubu Kandang.

Dalam pandangannya, celaan tersebut mengarah ke hukum yang ada di desa dan pemerintah desa memberikan sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Desa Kubu Kandang.

“Kita sudah melakukan sidang adat untuk menyelesaikan masalah mahasiswa kukerta yang mencela nama Desa Kubu Kandang. Karena di desa kami ada hukum dan adat terkait sanksi dan denda pelecehan nama Desa Kubu Kandang,” tukas Harun.

Dia menambahkan, baik perbuatan, tingkah laku dan perkataan sudah ada di undang-undang desa. Maka mereka harus bertanggung jawab.

“Kalau salah cakap, kita bisa memberi sanksi orang menurut aturan adat dan mereka telah melecehkan nama desa. Maka dikenakan sanksi sedang,” ucapnya.

Menurutnya, pemerintah desa sudah sepakat melalui musyawarah desa pada Minggu (21/11) lalu. "Mereka yang mencela dikenakan denda adat berupa kambing beserta selemak semanis, pisau sebilah, kain putih sekabung, asam-asaman dan sirih seminang lengkap," kata Harun.

Kendati demikian, pihak Desa Kubu Kandang masih menerima para mahasiswi yang melakukan kukerta di desanya. Hanya saja, harus sesuai dengan perjanjian yang dibuat, karena pihak desa tidak ingin peristiwa ini terulang.

“Semua denda yang diberikan sudah dipenuhi pada Selasa malam. Mereka juga sudah meminta maaf atas perbuatan penghinaan tersebut di depan masyarakat umum Desa Kubu Kandang,” ujarnya.

Terpisah, Wakil Rektor III Unja, Teka Kaswari, mengakui apa yang dikatakan dan dilakukan mahasiswa itu memang kurang terpuji.

"Kami menyatakan bahwa mahasiswa itu memang tutur katanya tidak terjaga dengan menggunakan media sosial," tuturnya.

Menurutnya, pembuatan video itu berlangsung sebelum kerja kuliah nyata di desa tersebut berlangsung. Sedangkan para mahasiswi yang melakukannya sudah meminta maaf.

"Itu sudah dilakukan permintaan maaf. Denda adatnya sudah dibayarkan," imbuh Teja.

Walaupun demikian, pihak Desa Kubu Kandang masih memberikan kesempatan untuk para mahasiswa melanjutkan kuliah kerja nyata (KKN).

"Mereka tetap berada di sana. Kepala desa sendiri sangat senang adanya mahasiswa KKN. Dari kejadian ini mereka khawatir tidak dapat KKN lagi," tuturnya.

Ia pun mengatakan pihak Unja tidak memberikan sanksi tertentu pada para mahasiswa tersebut. Namun, diharapkan mahasiswa lebih berhati-hati lagi, dan mampu menjaga sopan santun.

"Yang salah itu kan perilaku dalam menggunakan media sosial. Jadi, kita lakukan pembinaan, dan mereka dinasehati. Ini jadi introspeksi kita sebagai orang tua di sini. Mungkin kita evaluasi lagi. Budaya kita kan berbeda-beda di Jambi ini. Mungkin itu kita harus dicermati," tutupnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini