Share

Permasalahan Sosial Bisa Jadi Peluang Bisnis bagi Insan Vokasi

Riezky Maulana, iNews · Minggu 07 November 2021 08:14 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 07 623 2497898 permasalahan-sosial-bisa-jadi-peluang-bisnis-bagi-insan-vokasi-NKHSLa4xEF.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Lulusan perguruan tinggi vokasi di Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi social-entrepreneur. Segala permasalahan di masyarakat justru bisa menjadi peluang bisnis bagi lulusan vokasi yang dibekali ilmu kewirausahaan.

Hal tersebut menjadi kesimpulan dari webinar bertajuk Muda, Berkarya, dan Bermanfaat: Peluang Sivitas Vokasi dalam Sociopreneurship yang diselenggarakan Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

Adapun bentuk kewirausahaan makin beragam, termasuk social-entrepreneur (sociopreneur). Konsep sociopreneurship adalah menggabungkan konsep bisnis dengan isu sosial. Dengan banyaknya inspirasi dari sociopreneur muda yang sukses inilah diharapkan semakin banyak lulusan dari pendidikan vokasi yang berminat menjadi wirausaha sekaligus mampu menyelesaikan permasalahan sosial melalui keilmuan, keterampilan, serta kompetensi yang didapat selama menempuh studi.

Satu dari sekian contoh sociopreneurship adalah Digital Desa, sebuah platform yang membantu desa untuk melakukan transformasi digital di desa masing-masing. Dibangun sejak 2019, saat ini Digital Desa memiliki pengguna aktifsebanyak 429 desa terdaftar, 78 kabupaten, dan 6598 pengguna aplikasi.

Baca juga: Wapres Minta Pendidikan Tinggi Kembangkan Kerja Sama Riset Hadapi Globalisasi

Hampir semua founder Digital Desa memang berasal dari desa. Digital Desa melihat digitalisasi adalah cara yang paling efisien dan sangat mudah diakses oleh masyarakat dea.

“Digides hari ini berkutat di digitalisasi desa karena potensi yang ada adalah hampir 100 juta penduduk di desa punya literasi digital yang kurang, pelayanan publik banyak yang harus dibenahi,” ujar CEO Digital Desa Sidik Permana, Minggu (7/11/2021).

Baca juga: Jokowi Tak Ingin Mahasiswa Jadi Ekstremis hingga Pecandu Narkoba di Luar Kampus

Sidik menuturkan, desa memiliki permasalahan dalam mengakses internet. Berdasarkan pengalamannya terjun ke desa, dirinya kerap melihat warga desa harus mengakses internet di daerah-daerah yang rawan seperti jurang.

"Warga di desa, walaupun tidak ada internet, tapi punya smartphone. Kita harus bantu perbaiki konten dan akses, desa akan mengeluarkan potensi-potensi yang sebelumnya tidak ada,” tutur Sidik.

Di kesempatan yang sama, Co-Founder & Partnership Director IDVolunteering Putri Agustina menemukan ide di bidang siciopreneurship dengan harus memiliki empati terhadap masyarakat dan mewujudkan empatinya.

“Kita masuk ke masyarakat. Dari situ kita bisa dapat ide untuk membuat usaha sosial,” kata Putri.

Dalam membangun sociopreneurship, insan vokasi harus memiliki karakter pantang menyerah karena banyak tantangannya.

Hasil survei nasional yang dilakukan oleh Direktorat Mitras DUDI terhadap perguruan tinggi penyelenggara pendidikan vokasi (PTPPV) tahun 2021 menyatakan mahasiswa tahun pertama dan mahasiswa tahun terakhir memiliki persepsi kampus mereka belum banyak menyediakan berbagai aktivitas kewirausahaan.

Sedangkan dilihat dari minat berwirausaha, mahasiswa tahun pertama dan terakhir memiliki minat yang sama untuk menjadi seorang wirausahawan. Artinya, tidak ada peningkatan minat pada mahasiswa tingkat terakhir.

Baca juga: Kemendikbudristek: Kepercayaan Industri terhadap Pendidikan Vokasi Meningkat

Aktivitas kewirausahaan yang menjadi faktor penting dalam mendorong minat mahasiswa tahun terakhir untuk berwirausaha masih minim dilakukan oleh PTPPV. Kewirausahaan diharapkan mampu menjadi satu dari sekian solusi untuk mengatasi persoalan tenaga kerja di Indonesia.

Baca juga: Kemendikbudristek Dukung Pemberdayaan Pendidikan Vokasi untuk Masyarakat Desa

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pengangguran terdidik di Indonesia pada Agustus tahun 2020 tercatat 6,27 juta jiwa atau 64,24% dari jumlah pengangguran. Angka tersebut melonjak drastis hingga 34,16% dibandingkan Agustus tahun 2019.

Pengangguran lulusan perguruan tinggi tingkat diploma meningkat sebesar 8,5%, sedangkan sarjana meningkat tajam sebesar 25%. Angka tersebut perlu menjadi perhatian karena berpotensi meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk di Indonesia, ditambah lagi dengan adanya pandemi Covid-19 yang menimbulkan dampak ekonomi, sosial, dan budaya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini