JAKARTA - Lulusan perguruan tinggi vokasi di Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi social-entrepreneur. Segala permasalahan di masyarakat justru bisa menjadi peluang bisnis bagi lulusan vokasi yang dibekali ilmu kewirausahaan.
Hal tersebut menjadi kesimpulan dari webinar bertajuk Muda, Berkarya, dan Bermanfaat: Peluang Sivitas Vokasi dalam Sociopreneurship yang diselenggarakan Direktorat Kemitraan dan Penyelarasan Dunia Usaha dan Dunia Industri (Mitras DUDI) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Adapun bentuk kewirausahaan makin beragam, termasuk social-entrepreneur (sociopreneur). Konsep sociopreneurship adalah menggabungkan konsep bisnis dengan isu sosial. Dengan banyaknya inspirasi dari sociopreneur muda yang sukses inilah diharapkan semakin banyak lulusan dari pendidikan vokasi yang berminat menjadi wirausaha sekaligus mampu menyelesaikan permasalahan sosial melalui keilmuan, keterampilan, serta kompetensi yang didapat selama menempuh studi.
Satu dari sekian contoh sociopreneurship adalah Digital Desa, sebuah platform yang membantu desa untuk melakukan transformasi digital di desa masing-masing. Dibangun sejak 2019, saat ini Digital Desa memiliki pengguna aktifsebanyak 429 desa terdaftar, 78 kabupaten, dan 6598 pengguna aplikasi.
Baca juga: Wapres Minta Pendidikan Tinggi Kembangkan Kerja Sama Riset Hadapi Globalisasi
Hampir semua founder Digital Desa memang berasal dari desa. Digital Desa melihat digitalisasi adalah cara yang paling efisien dan sangat mudah diakses oleh masyarakat dea.
“Digides hari ini berkutat di digitalisasi desa karena potensi yang ada adalah hampir 100 juta penduduk di desa punya literasi digital yang kurang, pelayanan publik banyak yang harus dibenahi,” ujar CEO Digital Desa Sidik Permana, Minggu (7/11/2021).
Baca juga: Jokowi Tak Ingin Mahasiswa Jadi Ekstremis hingga Pecandu Narkoba di Luar Kampus
Sidik menuturkan, desa memiliki permasalahan dalam mengakses internet. Berdasarkan pengalamannya terjun ke desa, dirinya kerap melihat warga desa harus mengakses internet di daerah-daerah yang rawan seperti jurang.
"Warga di desa, walaupun tidak ada internet, tapi punya smartphone. Kita harus bantu perbaiki konten dan akses, desa akan mengeluarkan potensi-potensi yang sebelumnya tidak ada,” tutur Sidik.