Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah penyusunan Piagam Ankara PPI Turki 2025-2026, sebuah dokumen yang berfokus pada solusi konkret atas berbagai tantangan yang dihadapi pelajar Indonesia di Turki.
Piagam ini diharapkan menjadi pondasi pembaruan budaya organisasi PPI Turki, dengan lima pilar utama:
1. Memberikan pemahaman tentang advokasi dan langkah-langkah pencegahan.
2. Menyatukan strategi pelatihan anggota demi terciptanya generasi yang berdaya dan berkelanjutan.
3. Menguatkan komitmen dan kolaborasi antar-PPI wilayah dalam pengembangan akademik.
4. Memperkuat peran PPI Turki di tengah masyarakat.
5. Path to Success. Menyiapkan generasi diaspora unggul dengan menjadikan tantangan sebagai peluang.
Kemudian Ketua PPI Turki 2025, Naura Arifa, menyampaikan bahwa hasil Lokakarya tidak seharusnya berhenti di ruang diskusi.
Ia menekankan pentingnya keberlanjutan aksi dan konsistensi penerapan di wilayah masing-masing, serta mendorong seluruh peserta untuk membawa semangat kolaboratif ini ke ranah implementasi.
Baginya, perubahan yang diharapkan tidak selalu dimulai dari gebrakan besar, tetapi dari langkah kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
“Lima topik yang kita bahas Akademik, Advokasi, Kaderisasi, Path to Success, dan Connecting Turki-bukan sekadar agenda diskusi. Semuanya merupakan simpul dari satu benang merah: transformasi kultur PPI. Budaya baru ini kami bangun untuk memberdayakan diri, berkarya untuk komunitas, dan berjejaring demi masa depan,” jelasnya.
Naura menutup sambutannya dengan harapan agar kegiatan Lokakarya ini menjadi awal dari budaya organisasi yang inklusif, adaptif, dan terus bertumbuh.
Ia juga menyebutkan bahwa dalam esensinya, PPI bukan sekadar wadah organisasi, tetapi juga harus menjadi rumah yang menguatkan, mendukung perkembangan, dan membuka jalan bagi para pelajar Indonesia di Turki untuk berdaya dan berkarya.
(Taufik Fajar)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik