Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Keren! Pelajar Ini Temukan Sabun sebagai Obat Kanker Kulit

Arsitta Dwi Pramesti , Jurnalis-Senin, 13 November 2023 |11:07 WIB
Keren! Pelajar Ini Temukan Sabun sebagai Obat Kanker Kulit
Herman Bekel menemukan sabun untuk obat kanker kulit (Foto: Science Alert)
A
A
A

JAKARTA - Remaja asal Amerika Serikat (AS) berhasil memberikan harapan bagi pasien kanker kulit atau untuk mencegah kanker kulit. Dia berhasil mengembangkan sabun yang dapat membantu sistem kekebalan tubuh untuk melawan kanker kulit. Dia merupakan pelajar Woodson High School di Virginia Utara.

Atas karyanya, remaja 14 tahun ini memenangkan hadiah utama dalam Young Scientist's Challenge yang diselenggarakan oleh perusahaan 3M multinasional. Dilansir dari Science Alert, Senin (13/11/2023), remaja cerdas ini bernama Heman Bekel. Sebelum hijrah ke AS, Heman dan keluarganya tinggal di Etiopia selama empat tahun.

Di sana ia melihat bahwa banyak orang yang beraktivitas di bawah teriknya sinar matahari setiap hari. Melihat resiko dari sinar matahari pada kulit yang dapat menyebabkan kanker, Heman terinspirasi untuk membuat obat yang terjangkau dan efektif untuk mengobati kanker kulit.

 BACA JUGA:

Inspirasi yang diperoleh Heman, ia kembangkan menjadi sebuah ide produk sabun. Sabun ciptaannya mengandung imidazo quinolin, yang sudah digunakan sebagai pengobatan topikal untuk kondisi seperti kutil, infeksi jamur, dan jerawat. Sabun ini berfungsi menyalurkan obat melalui kulit yang mengaktifkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel kanker. Produk sabun Heman tak hanya sekedar membersihkan kulit, namun juga mengandung senyawa pelawan kanker akan bertahan lama setelah pembilasan terakhir.

Heman mulai mengerjakan produknya di rumah. Ketika ia terpilih menjadi finalis Young Scientist's Challenge, Heman mencari bantuan dari Universitas Virginia dan Universitas Georgetown, bersama dengan mentornya Deborah Isabelle, seorang insinyur produk di perusahaan 3M.

“Rasanya sedikit lebih lengket (daripada sabun biasa) karena mengandung nanopartikel berbasis lipid dan intinya. Bahkan setelah Anda mencuci sabun, bagian obatnya akan tetap menempel di kulit Anda,” jelas Heman.

Nanopartikel lipid pertama kali disetujui oleh FDA sebagai sarana penghantaran obat pada tahun 2018, dan terkenal karena penggunaannya dalam vaksin COVID-19 buatan Moderna dan Pfizer. Senyawa ini tidak harus disuntikkan pada kulit agar bekerja. Cukup dengan diaplikasikan pada kulit, nanopartikel lipid akan menembus kulit. Meskipun belum ada penelitian yang membuktikan seberapa dalam senyawa ini menembus kulit, penemuan Heman diharapkan dapat memecahkannya.

“Secara umum, saya tetap berpegang pada pengujian molekuler digital, yang merupakan proses pengujian yang cukup baru, di mana Anda dapat menguji bahan-bahan berbeda dan menggabungkan bahan-bahan berbeda (dalam model komputer) dan melihat fungsinya,” kata Heman.

 BACA JUGA:

Heman sendiri mengaku bahwa pengujiaannya pada model digital mendapat angka efisiensi yang cukup tinggi, namun Heman belum mengantongi uji pada manusia.

"Saat saya mengujinya pada model digital, saya mendapatkan angka efisiensi yang sangat tinggi. Namun, jika menyangkut pengujian pada manusia, saya masih belum memiliki sertifikasi FDA," terangnya.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement