Share

Teliti Mangrove untuk Alternatif Bahan Pangan, Dosen Universitas Brawijaya Raih Gelar Profesor

Avirista Midaada, Okezone · Selasa 26 Juli 2022 14:03 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 26 65 2636478 teliti-mangrove-untuk-alternatif-bahan-pangan-dosen-universitas-brawijaya-raih-gelar-profesor-y6XSoZprOq.jpg Dosen Universitas Brawiijaya teliti mangrove untuk alternatif bahan pangan dan raih gelar profesor/Avirista Midaada

MALANG - Seorang dosen Universitas Brawijaya (UB) meneliti manfaat tanaman mangrove sebagai bahan alternatif untuk makanan, yang membuatnya diganjar gelar profesor.

Selain pemanfaatan mangrove sebagai bahan makanan yang telah dilakukan, ada sejumlah fakta menarik mengenai tanaman mangrove yang mengantarkan Rudianto menjadi guru besar dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

Menurut Rudianto, mangrove tak hanya memiliki fungsi sebagai penahan air pasang dari ombak laut saja. Melainkan juga menjadi bagian dari tanaman yang mampu menurunkan suhu di bumi ini.

"Penelitian di Gresik Lamongan mangrove menyerap karbondioksida CO2, sudah diciptakan Tuhan menjadi bodyguard pantai bodyguardnya pesisir. Saya berpikir mangrove bisa menyerap di daerah tropis di kita, mangrove menyerap CO2 disimpan di tanah sekitar 10 persen," ucap Rudianto kepada MNC Portal, pada Selasa (26/7/2022).

Maka tak heran sebenarnya Tuhan telah merancang sedemikian rupa dengan lebih dari 62 persen di dunia ini ditempati kawasan pesisir, dengan ditanami mangrove.

Hal ini demi mengurangi perubahan iklim dan peningkatan suhu udara yang mengancam kehidupan manusia itu sendiri. Sayang kini populasi mangrove justru telah berganti dan hilang.

"Masalahnya mangrove itu sekarang habis berganti permukiman, tambak, saya ingin meneliti bagaimana caranya. Di Indonesia pesisirnya rusak hampir 60 - 70 persen, akibatnya mangrove menyerap justru menjadi karbon soft dan sumber munculnya karbon. oleh karena itu perlu dilakukan penelitian mengatasi perubahan iklim itu," ungkap dia.

Dari sanalah ia mencoba melakukan penelitian di empat wilayah pesisir di Kabupaten Gresik, Lamongan, Pasuruan, dan di kawasan Alas Purwo yang ada di pesisir pantai di Banyuwangi.

Dari hasil itu memang dapat dilihat kondisi mangrove di pesisir kawasan Jawa Timur sudah dalam tahap memprihatinkan.

"Di pesisir Lamongan dan Gresik berubah garis pantainya. Saya pikirkan bagaimana anak cucu saya ke depan bagaimana. Saya generasi kita sampai 2050 masih bisa selamat. Setelah di atas 2050 itu yang menderita, karena perubahan iklim," tuturnya.

Hal ini tentu berdampak pada adanya kenaikan suhu, pencairan air es gletser, kenaikan air laut, fenomena hujan es, hingga mampu menimbulkan likuifasi atau pencairan tanah yang menyebabkan tanah dari padat menjadi cair.

"Di Indonesia dulu yang tidak pernah hujan es, sekarang beberapa kali turun hujan es, di Jogja, di Malang, hujan es juga pernah, walaupun sekejap.Perubahan pasang surut di Jatim, kenaikan air laut, jauh dari pesisir juga terjadi likuifasi. Diproyeksikan sampai 2050 sampai 2100 bumi makan panas. Di India sudah luar biasa panasnya," paparnya.

Rudianto pun mendorong untuk pemerintah menegakkan regulasi yang ada. Pasalnya regulasi pengaturan kawasan pesisir sebenarnya telah ada, hanya pada implementasiinya yang dirasa kurang.

Namun pelestarian kawasan pesisir juga tak melulu tanggung jawab pemerintah saja, perlu kolaborasi dengan pihak swasta dan kesadaran masyarakat yang tinggi.

"Pemerintah pemegang mandat atas perintah undang-undang melakukan pengelolaan sumberdaya pesisir seperti hutan magrove. Sedangkan swasta ikut berkontribusi melestarikan hutan mangrove melalui pembiayaan restorasi. Model kelembagaan untuk restorasi ekosistem pesisir berbasis co-management," terangnya.

Caranya salah satunya dengan menyosialisasikan pemanfaatan tanaman mangrove, yang tak hanya bisa digunakan sebagai penangkal arus ombak laut.

Tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan ekonomi terutama di buahnya untuk dikonsumsi.

"Contoh di Lamongan itu saya melakukan penelitian buah mangrove protein lebih besar daripada karbohidratnya dan itu bisa dipakai untuk berbagai kegiatan, hanya cara memetiknya jangan sampai merusak," tuturnya.

Rudianto memaparkan tanaman mangrove mulai dari batang, daun, hingga buahnya dapat dimanfaatkan.

Daunnya pun bisa dipakai menyerap karbondioksida atau CO2.

"Kalau itu sudah nggak ada masa untuk menyerap CO2 yang menjadi cikal bakal rusaknya atmosfer itu nggak ada. Itu yang menyebabkan temperatur panas," bebernya.

Makanya ia mendorong agar pemerintah memasifkan sosialisasi pemanfaatan tanaman mangrove untuk kelestarian lingkungan. Selain bisa dimanfaatkan untuk ekonomi kemasyarakatan, ada manfaat ekologis.

"Sosialisasi harus dilaksanakan dan pemerintah harus punya inisiatif jangan dimulai dari bawah, masyarakat diam saja nggak ngerti. Makanya peranan perguruan tinggi sangat penting," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini