Saat kepercayaan itu dapat memengaruhi pikiran, perasaan dan perilaku seseorang.
Contohnya ketika akan menghadapi ujian, jika kamu memiliki self-efficacy yang tinggi kamu akan merasa bahwa kamu akan berhasil sehingga kamu akan berusaha untuk belajar dan menganggap hal ini adalah bagian dari prosesmu berkembang.
Sementara ketika self-efficacymu rendah, kamu akan merasa bahwa sekeras apapun kamu belajar, kamu akan tetap gagal dalam ujian sehingga kamu memilih untuk tidak belajar dan menganggap bahwa kamu akan terus gagal dalam hal apapun sepanjang hidup.
Dengan memiliki self-efficacy yang baik, kita dapat menentukan arah dan tujuan yang ingin kita capai, bagaimana cara mendapatkannya hingga bagaimana kita memandang keadaan disekitar kita.
Seperti, apa yang akan kamu lakukan setelah lulus? Bagaimana cara agar kamu dapat mencapai posisi itu? Hingga apakah kamu akan terus berusaha atau menyalahkan keadaan ketika menghadapi kegagalan?
Self-efficacy juga yang berperan penting untuk menentukan tingkat percaya dirimu.
Selain itu dengan memiliki self-efficacy yang baik, kamu jadi lebih mudah mendalami tugas atau materi kuliah hingga lebih mudah bangkit ketika gagal.
Faktor Pembentuk Self-Efficacy
Pembentukan self-efficacy sebenarnya sudah sudah dimulai sejak kecil, namun akan terus berkembang sepanjang hidup sesuai dengan pengalaman, pemahaman dan situasi yang kamu lalui.
Ada 4 faktor yang dapat membentuk self-efficacymu, yaitu:
1. Memiliki Banyak Pengalaman
Sebagai mahasiswa, kamu punya banyak kesempatan untuk memperbanyak pengalamanmu.
Mulai dari aktif organisasi, ikut berbagai penelitian, hingga mencoba berbagai jenis pekerjaan paruh waktu.