Share

Dua Mahasiswa UMM Sabet Penghargaan di Ajang PIMAF

Antara, · Rabu 27 April 2022 14:15 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 27 65 2586062 dua-mahasiswa-umm-sabet-penghargaan-di-ajang-pimaf-ZEA7zNQnRu.jpg Foto: Humas UMM

MALANG - Dua mahasiswa Program Studi Fisioterapi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Syi’ar Aprillia Tanazza dan Lina Mitsalina Erawati meraih best speaker dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Fisioterapi (PIMAF) yang diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Fisioterapi Indonesia (IMFI).

(Baca juga: Jadi Lulusan Terbaik UMM, Ini Kisah Inspiratif Mahasiswa asal Afrika Barat)

Perwakilan Tim Fisioterapi UMM, Syi’ar Aprillia mengatakan, bahwa paper penelitian yang diikutsertakan pada perlombaan ini berjudul "Analisis FIntervensi Fisioterapi pada Penyakit Parkinson Menggunakan Vosviewer".

Paper itu menjelaskan terkait penyakit parkinson disease serta cara pencegahan dan penyembuhannya. Parkinson desease adalah penyakit yang menyerang sistem syaraf yang mengganggu kemampuan tubuh dalam mengendalikan dan mengontrol gerakan.

“Selain itu, parkinson ini memiliki efek nyeri otot dan tremor pada tubuh. Biasanya parkinson menyerang dan diderita mereka yang berumur 50 tahun ke atas,”ujarnya Rabu (27/4/2022).

Ada tiga terapi untuk parkinson, baik untuk mencegah maupun menyembuhkan. Pertama, intervensi konvesional yang lebih memaksimalkan kemampuan fisioterapis dan latihan penguatan.

Selanjutnya intervensi modern yang mengedepankan teknologi yang dapat memulihkan syaraf, salah satunya infra merah dan terakhir adalah intervensi musik dan menari yang menjadi inovasi pengobatan parkinson di Indonesia. Para pasien diajak menari dengan mengikuti irama musik yang memberikan efek rileks untuk syaraf.

“Intervensi musik dan tari ini bisa diaplikasikan dengan menggunakan tari lokal Indonesia, mengingat intervensi ini baru dilakukan di Argentina dengan tari Tango,” ucapnya.

Mahasiswa asli Sumbawa ini menceritakan bahwa selama presentasi, ia dan tim tidak mengalami kegugupan dan sudah menyiapkan persiapan matang, mulai dari pendalaman materi, penguasaan panggung, dan yang paling penting adalah upaya untuk memberikan pemahaman bagi audiens.

Persiapan tersebut pun tidak sia-sia, bahkan membuahkan hasil dengan predikat best speaker pada ajang PIMAF ini. Namun, bukan berarti keberhasilan tersebut tanpa diiringi dengan halangan. Salah satu yang ditemui adalah kurangnya penelitian terbaru yang mengkaji materi terkait.

Ia berharap intervensi musik dan tari ini bisa dikembangkan dan diaplikasikan di Indonesia. Apalagi, Indonesia memiliki budaya tari yang bermacam-macam. Sehingga, dapat meningkatkan kesembuhan penderita parkinson. Ia berharap semangat penelitian dan belajar tetap membara dalam diri mahasiswa.

“Jangan pernah takut berkompetisi, karena dengan ajang itulah kita bisa mengukur kemampuan diri serta mengetahui luasnya dunia. Selain itu, kita bisa meningkatkan dan memperbaiki diri, sehingga mampu berprestasi,”tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini