Share

UI Rancang Aplikasi AKSI untuk Penderita Hipertensi

Neneng Zubaidah, MNC Portal · Minggu 23 Januari 2022 16:06 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 22 65 2536097 ui-rancang-aplikasi-aksi-untuk-penderita-hipertensi-GAUI4cRvVt.jpg Tampilan aplikasi AKSI (Foto: Dok UI)

JAKARTA - Universitas Indonesia (UI) melalui Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) merancang aplikasi bernama AKSI atau singkatan dari Aplikasi Kontrol Hipertensi.

Komorbid pada lansia yang paling tinggi adalah hipertensi, yang memerlukan monitoring secara berkala untuk mengendalikan tekanan darahnya. Di masa pandemi Covid-19, terjadi penurunan kedatangan lansia ke fasilitas kesehatan, karena mempertimbangkan risiko ketika berkunjung.

Selain itu, pelayanan kesehatan di puskesmas saat ini lebih banyak terhadap pasien Covid-19, sehingga kegiatan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) dan Pos Binaan Terpadu (Posbindu) lansia di banyak Puskesmas ditiadakan dan dialihkan ke layanan daring.

Baca juga:  Membanggakan, Guru Besar FKM UI Raih Penghargaan K3 Dunia

Padahal, lansia tergolong kelompok yang mengalami kesulitan dapat mengakses dan menggunakan internet, sehingga pelayanan lansia terhambat dan kesehatan lansia sulit terpantau.

Aplikasi ini dirancang sembilan mahasiswa dan diketuai Dr Atik Nurwahyuni untuk memantau faktor-faktor risiko penyebab hipertensi, sehingga kegiatan pemantauan yang dilakukan di (Posbindu) dan Prolanis yang saat ini ditiadakan, dapat tetap dilaksanakan walaupun dengan cara yang berbeda.

Baca juga: FKM UI Berharap Penyintas Covid-19 Mendapat Akses untuk Hidup Lebih Baik

Hal ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan dukungan untuk memantau para penderita hipertensi, yang mana penyakit ini adalah salah satu penyakit komorbid tertinggi penyebab Covid-19.

Aplikasi yang dikembangkan berbasis KoboToolbox tersebut dapat memberikan pesan kesehatan secara otomatis di akhir pengisian form penilaian mandiri, sehingga lansia dapat mengetahui apakah pola perilaku kesehatan mereka sudah baik atau belum.

Hal tersebut dapat memudahkan para lansia untuk mengontrol atau mengendalikan hipertensi melalui kontrol pola perilaku. Aplikasi yang dirancang dapat digunakan secara offline sehingga dapat digunakan tanpa internet.

Untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap para lansia dalam pengendalian hipertensi, tim Pengmas juga mensosialisasikan “Tips Centong Nasi (Langkah Centong untuk Mengendalikan Hipertensi)”. Kegiatan dilakukan melalui WhatsApp, poster, dan video.

Video intervensi berisi penjelasan mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kontrol tekanan darah dan tips pengendaliannya melalui langkah Centong, yaitu Cek kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok dan minuman alkohol, Nutrisi baik dengan makanan bergizi, Tidak makan makanan asin dan berlemak berlebihan, Olahraga atau aktivitas fisik secara teratur, Normalkan berat badan, dan Giat mengelola stres.

“Para lansia semangat sekali mengikuti intervensi kami, bahkan ada lansia yang mengirimkan pesan kepada saya untuk memeriksa apakah beliau sudah memahami atau belum tentang gerakan Centong Nasi dan ada juga yang menyebarkan gerakan Centong melalui snap Whatsapp,” ujar salah seorang anggota Tim Pengmas Dewi melalui siaran pers, Jumat (21/1/2022).

Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kemandirian bagi lansia dalam mengendalikan faktor-faktor risiko hipertensi terutama di masa pandemi. Penyakit hipertensi tidak dapat disembuhkan secara total, namun dapat dikendalikan.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini