Dr Wiyoto, Wakil Ketua Tim Peneliti juga berharap, sistem budidaya RAS dan bioflok ini dapat menjadi alternatif teknologi bagi tambak-tambak yang tidak lagi produktif. Sebab dengan luasan yang sedikit saja, mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi.
“Dengan konsep ini, kita bisa menghidupkan tambak-tambak yang tidak aktif, yang tidak produktif. Sebab teknologi ini sudah kita ujicoba dan berjalan dengan baik, sehingga bisa dikembangkan secara luas dan dengan skala yang lebih besar lagi,” jelasnya.
Secara lengkap, tim peneliti terdiri dari Prof Bambang Widigdo, Dr Wiyoto, Dr Zulaikasari, Dr Sigit dan melibatkan 29 mahasiswa, baik dari Sekolah Vokasi maupun program Sarjana. Inovasi yang sangat aplikatif untuk diterapkan di masyarakat ini mendapatkan dana dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi dalam bingkai prpgram Kedai Reka.
Rektor IPB University, Prof Arif Satria mengatakan, "Fasilitas greenhouse ini merupakan salah satu Teaching Factory (Tefa) yang dimiliki Sekolah Vokasi IPB University. "Kehadiran Tefa penting bagi kompatibilitas antara pendidikan dengan industri. Dengan cara ini, pendidikan mampu uptodate, sesuai dengan perkembangan zaman, " ungkapnya.
“Kita ingin lulusan vokasi ketika masuk ke industri, apa yang dihadapi sama. Mahasiswa yang kuliah di vokasi, dengan fasilitas Tefa yang smart ini, begitu lulus, tidak kaget. Tefa bertujuan mengenalkan industri kepada mahasiswa, dan menghadirkan aura industri di dunia kampus,” terangnya.
(Khafid Mardiyansyah)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik