Ketika Pelajar di Canberra Belajar Tari, Angklung dan Gamelan

Tim Okezone, Okezone · Rabu 13 Oktober 2021 19:58 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 13 624 2485880 ketika-pelajar-di-canberra-belajar-tari-angklung-dan-gamelan-BSzyzMWn2J.jpg Angklung (Foto: Dok Sindonews)

CANBERRA - Semangat pelajar Defence Force School of Languages Australia di Canberra untuk belajar lebih banyak tentang bahasa dan budaya Indonesia tak surut dengan hawa dingin yang masih menyelimuti pagi. Mereka terlihat antusias pada workshop budaya yang diselenggarakan secara virtual pada 12 Oktober 2021, oleh Defence Force School of Languages bekerjasama dengan KBRI Canberra.

Kegiatan yang dinamakan IN-COUNTRY TRAINING ACTIVITIES ini akan berlangsung selama 9 hari. Selama berlangsungnya kegiatan para peserta dikenalkan dengan beragam atribut budaya Indonesia dari mulai tarian, pakaian adat, makanan khas daerah sampai alat musik dan seni bela diri silat yang merupakan kekhasan Indonesia.

Baca Juga:  Kocak! Sindiran Anak IPA di Status WhatsApp Bikin Ngakak

Peserta juga diajak melakukan virtual tour keliling beberapa provinsi Indonesia untuk lebih dekat mengenal Indonesia. Tidak lupa mereka juga diajarkan mengenal batik sebagai salah satu warisan budaya yang penting bagi Indonesia.

Atase pendidikan dan kebudayaan (Atdikbud) KBRI Canberra, Mukhamad Najib, mengatakan bahwa workshop ini sengaja dirancang untuk mereka yang akan melaksanakan tugas di Indonesia. Selain belajar mengenai bahasa Indonesia, mereka juga diperkenalkan dengan budaya Indonesia dan mempraktekannya secara langsung.

“Untuk workshop kali ini mereka belajar tarian tradisional Bali, mengenal dan memperagakan beragam pakaian adat Indonesia, dan belajar memainkan dua alat musik tradisional, yaitu gamelan Bali dan angklung”, ungkap Najib.

Pemerintah Canberra sendiri sampai tanggal 15 Oktober 2021 ini masih memberlakukan kebijakan lockdown dimana tidak memungkinkan bagi panitia untuk menyelenggarakan workshop secara tatap muka. Oleh karena itu semua program dalam workshop ini dilakukan secara daring, termasuk berlatih alat musik pun dilakukan secara daring.

Menurut Najib, meski workshop dilakukan secara daring, hal tersebut tidak mengurangi antusiasme para peserta untuk berlatih menari dan memainkan alat musik tradisional Indonesia dengan semangat dan gembira.

Baca Juga:  Pelajar Indonesia Raih Medali Emas di Ajang International High Schools Arts Festival

Dalam sambutan pembukaannya Atdikbud menyampaikan bahwa para peserta akan dikenalkan sebagian kecil dari tradisi dan budaya Indonesia. Menurutnya, Indonesia itu bukan hanya sangat luas secara geografi yaitu dari Sabang sampai Merauke, tapi juga sangat kaya akan budaya dan tradisi sehingga tidak mungkin dalam waktu yang singkat bisa dipelajari seluruhnya.

“Jika ingin belajar keragaman, maka Indonesialah tempatnya. Indonesia terdiri dari beragam etnis dengan beragam tradisi, budaya dan bahasa. Jadi kalau saat ini para peserta belajar bahasa Indonesia, ketahuilah bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, sementara di setiap daerah di Indonesia juga terdapat banyak sekali bahasa daerah, sehingga jangan kaget jika nanti anda datang ke Jogjakarta misalnya, mereka akan bicara dengan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia”, jelas Najib kepada peserta.

Pelatihan menari dan bermain gamelan Bali dalam workshop ini dibimbing langsung oleh I Gede Eka Riadi yang merupakan seniman Indonesia asal Bali. Sementara untuk pelatihan Angklung para peserta dibimbing langsung oleh Rubby Al Burhan, seniman asal Jawa Barat.

Keduanya merupakan staf KBRI Canberra yang memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing. Tentu tidak mudah melakukan pelatihan musik dan tari secara daring, terlebih lagi untuk angklung yang harus dimainkan secara bersama-sama.

Gede mengatakan sebenarnya pelatihan secara daring tidak terlalu mudah, karena perbedaan jaringan internet dari masing-masing akan menyebabkan bunyi yang beragam. “Gamelan harus dimainkan secara bersama-sama di tempat yang sama, sehingga dengan pelatihan secara daring maka menyelaraskan bunyi antar peserta menjadi tidak mudah mengingat masing-masing peserta berada di tempat yang berbeda”, jelas Gede.

Senada dengan Gede, instruktur Angklung KBRI, Rubby menyatakan bahwa pelatihan angklung secara daring memberikan tantangan tersendiri. “Sebagaimana kita tahu bahwa angklung haruslah dimainkan berkelompok secara bersama, pelatihan Angklung secara daring mensyaratkan jaringan yang stabil agar bisa menghasilkan bunyi asli yang jelas. Karena jika bunyi asli dari masing-masing angklung tidak jelas, maka akan sulit untuk menyeleraskan bunyinya”, terang Rubby.

Namun begitu, menurut Rubby pelatihan angklung daring ini sangat menarik meski secara teknis sedikit rumit karena panitia harus mengirimkan dulu angklungnya ke masing-masing peserta dan memastikan jaringan yang digunakan berkualitas baik.

Dalam kesempatan berlatih angklung ini pula para peserta menanyakan mengenai sejarah angklung, kapan angklung mulai dimainkan, apakah ada waktu khusus untuk memainkan angklung, apa saja jenis-jenis angklung yang ada, dan berapa harga angklung.

“Mereka sangat menikmati bermain angklung, bahkan mereka berminat untuk memiliki angklung sendiri”, tutur Rubby.

Menurut Najib, pelatihan daring untuk gamelan dan angklung ini merupakan suatu inovasi pembelajaran yang menarik. Najib berharap dengan pelatihan budaya secara daring ini akan memudahkan kita melakukan promosi budaya secara digital.

“Pelatihan tari, gamelan dan angklung secara daring ini memungkinkan kita mempromosikan budaya Indonesia secara digital dengan lebih luas lagi. Kedepan kantor Atdikbud Canberra juga akan membuat tutorial bermain gamelan dan angklung secara digital sehingga mudah didistribusikan ke sekolah-sekolah maupun universitas di Australia”, tutup Najib.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini