Atlet Parabadminton Raih Emas, Dekan FKOR UNS: Disabilitas Bisa Harumkan Nama Indonesia

Tim Okezone, Okezone · Selasa 07 September 2021 05:54 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 07 65 2467198 atlet-parabadminton-raih-emas-dekan-fkor-uns-disabilitas-bisa-harumkan-nama-indonesia-qne81ZgyFj.jpg Foto: Istimewa

SURAKARTA - Turnamen Paralimpiade Tokyo 2020 resmi ditutup pada Minggu 5 September 2021. Pada gelaran olahraga disabilitas terbesar sedunia itu, Indonesia berhasil finis di posisi ke-43 dengan raihan 2 emas, 3 perak, dan 4 perunggu.

Dua medali emas tersebut disumbang oleh cabang parabadminton di nomor ganda putri yakni Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah dan ganda campuran Hery Susanto/Leani Ratri Oktila.

Kesuksesan para atlet parabadminton tersebut tidak lepas dari tangan dingin Sapta Kunta Purnama. Dia merupakan dosen yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta itu dipercaya sebagai pelatih sekaligus manajer tim parabadminton Indonesia di ajang Paralimpiade Tokyo 2020.

Pada babak final di nomor ganda putri dan ganda campuran, Sapta Kunta terlihat mendampingi anak didiknya di pinggir lapangan sembari memberikan instruksi sekaligus mengarahkan strategi para atlet hingga berhasil menjejaki podium tertinggi di ajang yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang itu.

Sapta Kunta mengaku sangat senang dengan capaian anak-anak didiknya tersebut. Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Kepelatihan Olahraga tersebut mengungkapkan bahwa hasil itu sudah sesuai dengan prediksi target emas dari National Paralympic Committee (NPC) Indonesia.

Baca juga: Dapat 2 Emas dan 1 Perak di Paralimpiade Tokyo 2020, Leani Ratri Oktila Belum Puas

“Alhamdulillah euforia masyarakat Indonesia sangat tinggi. Saya berharap medali emas ini dapat memberikan kegembiraan rakyat Indonesia di tengah kesedihan pandemi Covid-19. Meskipun sejenak, dua atau tiga hari euforia ini berlangsung, setidaknya dapat mengobati kesedihan masyarakat,” ujar pria yang juga menjadi Pembina di NPC Indonesia itu.

Dosen berusia 53 tahun itu mengatakan bahwa keberhasilan tersebut berkat persiapan panjang yang dilalui oleh para atlet. Menurutnya, para atlet disabilitas sudah disiapkan sejak 2019 lalu untuk mengikuti ASEAN Paragames 2019 di Filipina tapi turnamen tersebut dibatalkan.

Baca juga: Leani Ratri Oktila Ungkap Kunci Sukses Rebut 2 Emas dan 1 Perak di Paralimpiade Tokyo 2020

"Para atlet baru benar-benar mengikuti pemusatan latihan sejak Oktober 2020 di Solo Baru," ujar Sapta Kunta.

Meski demikian, persiapan para atlet disabilitas ini tidaklah mulus. Aturan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diberlakukan pemerintah Solo membuat aktivitas latihan terganggu.

Saat itu, Sapta Kunta berinisiatif untuk meminta izin Rektor UNS Jamal Wiwoho menggunakan Gedung Olahraga (GOR) FKOR UNS yang baru selesai dibangun sebagai tempat latihan para atlet disabilitas. Lalu, Jamal pun merestui dan mendukung penuh para atlet tersebut.

“Alhamdulillah Pak Rektor mengizinkan. Akhirnya kami bisa latihan di GOR FKOR UNS. Pak Rektor memang sangat peduli dengan para atlet. Bahkan setiap hari saat sejak di Machida sampai di Tokyo itu beliau nelpon saya menanyakan perkembangan di sini,” tambah dosen kelahiran Boyolali itu.

Baca juga: Upacara Penutupan Berakhir, Tokyo Serahkan Tongkat Estafet Tuan Rumah Paralimpiade 2024 ke Paris

Raihan ini tentunya diharapkan dapat membayar kerja keras semua atlet, pelatih, dan official selama ini. Ia pun berharap prestasi ini dapat membukakan jalan bagi penyandang disabilitas agar mereka diberi kesempatan dan hak yang sama.

"Ajang tersebut diharapkan dapat menjadi bukti bahwa penyandang disabilitas juga memiliki wadah olahraga yang dapat digeluti agar bisa turut serta mengharumkan nama Indonesia," imbuhnya.

Baca juga: Iring-iringan Bendera Negera Peserta Semarakkan Upacara Penutupan Paralimpiade Tokyo 2020

Sapta Kunta bersama tim parabadminton akan kembali ke Indonesia pada Senin 6 September 2021. Setiba di Jakarta, beliau bersama dengan rombongan kloter tiga akan isolasi mandiri selama delapan hari terlebih dahulu. Setelah itu, mereka akan dijadwalkan menemui Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

“Tadi kami sudah ditelpon Pak Jokowi. Nanti pas pulang ke Indonesia diminta untuk menemui beliau di Istana, tapi kami harus isoman dulu delapan hari,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini