Kendati menggunakan kelas darurat, Susmiati mengatakan hingga saat ini tidak ada kendala dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar.
"Kelas dan perpustakaan tidak ada masalah, semua berjalan lancar," ujarnya.
Ia menjelaskan, ruang bekas perpustakaan ukuran 2,5 x 5 meter tersebut selama ini digunakan untuk kelas dua dengan jumlah siswa sebanyak 27 murid.
Akibat kondisi ruang yang sempit itu membuat bangku disusun berhimpitan dalam dua lajur saling berhadapan, sehingga siswa tidak leluasa bergerak.
"Kami sudah berusaha untuk mendapatkan bantuan dari pusat agar dapat dibangunkan ruang kelas baru. Namun, tahun ajaran 2015/2016 ini baru mendapat kucuran anggaran untuk rehab dan membangun pondasi kelas baru yang direncanakan diatas kelas satu," katanya.