Share

Siswa Meksiko Jadi Korban Konflik Guru dengan Pemerintah

ant, · Jum'at 01 Juli 2016 12:04 WIB
https: img.okezone.com content 2016 07 01 65 1430354 siswa-meksiko-jadi-korban-konflik-guru-dengan-pemerintah-OHYPyrfsGR.jpg Ilustrasi: Shutterstock

MEKSIKO - Selama beberapa dasawarsa terakhir, guru pembangkang dan pemerintah terlibat konflik. Akibatnya, beberapa generasi pelajar tak bisa menyelesaikan pendidikan.

Organisasi non-pemerintah Mexicanos Primero (Rakyat Meksiko Dulu) melansir, kondisi yang paling sesuai terlihat di Negara Bagian Oaxaca. Pusat guru pembangkang tersebut belum lama ini terlibat konflik dengan pemerintah mengenai serangkaian pembaruan pendidikan yang diberlakukan pada 2013.

Direktur NGO tersebut David Calderon mengatakan, sampai siswa lokal lulus sekolah dasar, mereka telah kehilangan seluruh tahun akademik sebab para guru telah ikut dalam pawai protes.

"Dalam enam tahun, seorang anak di Oaxaca kehilangan sedikitnya 200 hari pelajaran, yang sama dengan satu tahun ajaran di Meksiko," kata Calderon dalam wawancara dengan Xinhua dan dilansir Antara, Jumat (1/7/2016).

NGO itu, yang mendukung pembaruan pemerintah, mengatakan, "Selama lebih dari 22 tahun, anak-anak di sekolah umum negara di Oaxaca belum bisa menikmati tahun ajaran penuh."

Meskipun konflik antara guru pembangkang dan pemerintah memiliki sejarah panjang, sebagian besar letupan paling akhir ketegangan telah berpusat pada pembaruan; para guru mengatakan pembaruan tersebut mengancam pekerjaan mereka dengan menetapkan penilaian berkala.

Selama lebih dari enam bulan, para guru dari Koordinator Nasional Pekerja Pendidikan (CNTE), sayap pembangkang serikat guru nasional, telah menduduki bundaran pusat di Ibu Kota Negara Bagian itu, Oaxaca, mendirikan penghalang jalan di jalan raya utama di dalam dan luar kota, dan kadangkala merusaka kantor pemerintah. Awal Juni, delapan pendukung CNTE tewas dalam bentrokan dengan polisi yang berusaha membubarkan protes.

Protes telah menyebar ke negara bagian lain, termasuk Guerrero, Chiapas dan Michoacan, tapi Oaxaca terus menjadi yang paling bergolak, demikian laporan Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Kamis pagi. Protes itu mempengaruhi 891 ribu siswa di 14.226 pra-sekolah umum, dan dasar dan menengah.

"Situasi di Oaxaca sangat rumit, sangat kusut," kata Caldeeron, mantan profesor di Universitas Otonomi Nasional di Meksiko (UNAM).

Di antara negara anggota Organisasi bagi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), Meksiko menempati posisi paling rendah dalam prestasi murid, di belakang Turki, Yunani dan Republik Slowakia, dalam studi 2012. Program Penilaian Siswa Internasional (PISA), yang berlaku bagi 34 negara OECD, memperlihatkan sembilan dari setiap 10 siswa sekolah dasar di Oaxaca jatuh ke kategori dua terendah.

Kekacauan berlarut-larut selama lebih dari dua dasawarsa, dan selama itu CNTE menguasai sektor pendidikan negara bagian. Pada 2015, pemerintah Negara Bagian merebut kembali kendali.

"Mereka menerima (upah) sebagai guru, tapi mereka melakukan kegiatan politik untuk partai, untuk wali kota atau untuk CNTE sendiri." kata Calderon, yang kegiatan organisasinya untuk menggolkan pembaruan dan setiap kebijakan lain yang dirancang untuk meningkatkan pendidikan di Meksiko.

Pembaruan tersebut juga bertujuan menghapuskan praktik lama di Meksiko mengenai pewarisan posisi pengajar dari satu generasi ke generasi berikutnya di dalam satu keluarga, atau menjualnya. Tapi "jangkauan pembaruan sistem pendidikan telah terbukti terbatas".

(rfa)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini