SURAKARTA - Isu melemahnya nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi perhatian mahasiswa dalam sesi Moneyfetasi pada acara iNews Media Group Campus Connect di Universitas Sebelas Maret, Rabu (20/5/2026). Dalam diskusi tersebut, mahasiswa aktif mempertanyakan langkah yang sebaiknya dilakukan generasi muda di tengah kondisi ekonomi saat ini.
Sesi Moneyfetasi mengangkat tema “Fintech The Future: Membangun Literasi dan Keamanan Pendanaan Digital Generasi Muda”. Salah satu narasumber, Dila Maghrifani selaku peneliti UNS Fintech Center, menjelaskan bahwa masyarakat perlu lebih memahami faktor ekonomi yang memengaruhi naik turunnya kurs dolar.
Menurutnya, penguatan dolar tidak bisa dipandang sebagai fenomena biasa karena berkaitan dengan berbagai faktor makroekonomi, termasuk kebijakan pemerintah dan kondisi global.
“Kalau kita melihat kurs dolar naik, kita perlu memahami apa yang menyebabkan dolar menguat dan rupiah melemah. Kebijakan pemerintah juga ikut memengaruhi kondisi tersebut,” ujar Dila dalam pemaparannya.
Ia menilai kondisi saat ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk melakukan evaluasi dalam pengelolaan keuangan, termasuk lebih bijak dalam membeli mata uang asing.
Menurut Dila, tingginya permintaan dolar dapat ikut mendorong penguatan mata uang tersebut. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk memperkuat penggunaan rupiah dalam aktivitas ekonomi.
“Kalau pembelian dolar terus meningkat, nilainya juga bisa semakin naik. Sebaliknya, kalau penggunaan rupiah diperkuat, maka rupiah juga bisa lebih stabil,” katanya.
Selain faktor domestik, Dila juga menyoroti kondisi geopolitik global yang masih memengaruhi stabilitas ekonomi dunia. Konflik internasional dan ketidakpastian global dinilai ikut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)