JAKARTA - Calon Presiden 2024 Ganjar Pranowo menyampaikan pesan penting mengenai tantangan yang dihadapi oleh berbagai kalangan, terutama mahasiswa ilmu hukum, dalam menghadapi revolusi Industry 4.0 yang sedang berlangsung.
Pada acara Kongres Nasional VIII Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) yang diselenggarakan di gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang pada Jumat (2/11/2022),
Ganjar Pranowo memahami bahwa revolusi Industry 4.0 membawa tantangan serius kepada semua pihak, termasuk mahasiswa ilmu hukum.
BACA JUGA:
Tantangan ini membutuhkan kesiapan yang tinggi agar muncul kreativitas dalam mengantisipasinya. Bidang hukum, menurutnya, ditantang untuk merespons perubahan yang terjadi di berbagai sektor akibat revolusi Industry 4.0.
Perubahan drastis dalam dunia kerja menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan. Hampir semua jenis pekerjaan dapat digantikan oleh teknologi dan robot, termasuk pekerjaan di bidang hukum. Bahkan, ada kemungkinan bahwa pekerjaan notaris atau konsultan hukum tidak akan diperlukan lagi di masa depan.
BACA JUGA:
Ganjar Pranowo mendorong mahasiswa ilmu hukum untuk menjadi lebih proaktif dan kreatif dalam menghadapi perubahan ini. Ia menyarankan agar mahasiswa "gelisah" untuk berfikir kreatif.
Pertanyaan mendasar muncul, apakah kontrak-kontrak pekerjaan di masa depan masih memerlukan kehadiran seorang pengacara atau notaris? Dalam pandangan Ganjar, aplikasi teknologi bisa saja menggantikan peran tersebut, dengan kemampuan untuk memproses informasi secara cepat dan akurat.
Untuk itu, mahasiswa ilmu hukum ditantang untuk terus berpikir keras tentang bagaimana mereka dapat eksis dan relevan di era digital ini. Responsif terhadap perkembangan teknologi dan kemampuan untuk beradaptasi adalah kunci untuk bertahan dan berkembang dalam revolusi Industry 4.0.
2 Program Ganjar Pranowo untuk Pemuda Menghadapi Industry 4.0
Dalam menghadapi revolusi Industry 4.0 dan bonus demografi, Mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, memiliki dua program andalan yang dianggap sebagai solusi yang tepat.
Gagasan ini disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Sumber Daya Manusia di Lemhanas, Jakarta, Jumat (20/9/2019)