Canggihnya Mesin Pendingin Ikan Tenaga Surya Buatan Mahasiswa ITS

Koran SINDO, Jurnalis
Minggu 16 Juni 2019 11:29 WIB
Nelayan (Foto: Okezone)
Share :

ES-PORT belum bisa mencapai suhu minus atau membuat es, karena alat ini tidak menggunakan Freon. Proses pendinginan suhunya pun membutuh waktu cukup lama, kurang lebih satu jam.

“Kita hanya menggunakan alat/termoelektrik yang ramah lingkungan, tanpa Freon, paling tidak suhu 9,4 °C ini sudah bisa menjaga kualitas ikan selama kurang lebih dua hari,” kata mahasiswa asal Yogyakarta.

Reza menambahkan bahwa penggunaan es untuk membekukan ikan tidak akan mencapai suhu 0°C, karena yang memiliki suhu 0°C adalah es. Suhu pemaparan pada ikan sebetulnya di bawah 10°C, namun tidak sampai pada angka nol atau titik beku air. Selama penelitian, Reza dan kawan-kawan menghabiskan dana lebih dari Rp3juta.

Biaya ini digunakan untuk membeli perlengkapan mesin pendingin ikan, yang diubah hingga tiga kali desain. Pada uji coba edisi pertama, mereka menemui beberapa nelayan dan meminta pendapat tentang hasil penelitiannya.

Pertemuan itu mendapat beberapa masukan dan saran, sehingga desain diubah. Uji coba kedua, mereka menemukan beberapa kendala dari segi komponen saat diletakkan di perahu. Selain itu, setiap komponen pada mesin pendingin juga belum bekerja maksimal.

Pada desain ke-3, mereka berhasil menciptakan mesin pendingin ikan yang mampu berkerja dengan maksimal. Desain ini juga mudah diterima oleh nelayan dan dapat digunakan secara portable.

“Sampai desain ke-3 ini muncul, generasi ini yang bisa menjawab (kebutuhan nelayan), walaupun sebenarnya masih perlu di-improve,” tambahnya.

Reza mengungkapkan bahwa biaya pembuatan untuk satu mesin pendingin ikan menghabiskan dana sekitar Rp1,5 juta. Biaya itu baru digunakan untuk membeli komponennya saja, belum termasuk biaya keuntungan.

Mesin buatan ITS ini butuh diproduksi secara massal, mengingat kebutuhan nelayan dalam menjaga kualitas ikan hasil tangkapan. Penggunaan es untuk menjaga kualitas ikan hanya menambah beban nelayan dan mengurangi pendapatan mereka.

“Kami sudah memperhitungkan biaya jikanya jika diproduksi massal, harganya akan jauh lebih rendah daripada harga yang sekarang,” kata mahasiswa angkatan 2016 ini.

Konsep inovatif mahasiswa ITS ini menjadi unggulan Asia Tenggara dalam Design Competition for Industrial System and Environment 2019 (Descomfirst 2019), yang diselenggarakan di Universitas Negeri Surakarta (UNS) pada 4-5 Mei lalu.

ES-PORT memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki tim lain. Keunggulan itu meliputi tiga aspek, yakni proposal dengan data lengkap, presentasi yang menarik dan terstruktur, serta prototipe yang telah dilakukan pengujian secara langsung.

“Kami tidak akan berhenti, pengembangan dan penelitian lebih lanjut akan terus dilaksanakan agar menghasilkan produk yang jauh lebih sempurna,” tambah Reza.

(Rani Hardjanti)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya