JAKARTA - Inovasi mesin pendingin ikan tenaga surya karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) membantu nelayan dalam menjaga kualitas ikan hasil tangkapan selama melaut.
Mesin ini tidak membutuhkan listrik, tapi hanya memanfaatkan energi matahari untuk mengaktifkan seluruh komponen yang ada. Rangkaian mesin menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan, agar tidak mencemari laut yang notabene sebagai salah satu sumber kehidupan.
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah mencapai 17.000 pulau dan diakui sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Kepulauan ini membuat Indonesia menciptakan banyak nelayan, karena hasil laut Indonesia sangat melimpah.
Saat berlayar, sebagian besar nelayan di Indonesia hanya menggunakan peralatan seadanya untuk menangkap ikan. Mereka tidak memiliki peralatan yang lengkap atau modern, apalagi tempat penyimpanan ikan hasil tangkapan. Faktor ini membuat mahasiswa ITS mengambil langkah positif untuk membantu para nelayan.
Baca Juga: Pertama di Dunia, Ilmuwan RI Teliti Dampak Geoengineering Radiasi Matahari
Bermula dari mata kuliah sistem logistik, tiga mahasiswa Departemen Teknik Industri ITS yang bernama Reza Aulia Akbar, Edrian Hamijaya, dan Dito Abrar telah melakukan inovasi pendingin ikan tenaga surya. Alat itu diberi nama Eco Storage Portable (ES-PORT).
Pengiriman ikan yang memakan waktu lama, hingga berhari-hari, menjadi salah satu kendala yang dihadapi. Ikan yang sudah mati akan cepat membusuk dalam waktu singkat jika tidak didinginkan dengan suhu tertentu.
“Konsen di sini banyak sekali, masalah terkait dengan pengiriman barang menggunakan cold storage , jadi penyimpanan cold storage sangat penting untuk menjaga kualitas ikan,” kata Reza saat dihubungi tim Sindo.
Reza menjelaskan bahwa jumlah nelayan mencapai ratusan ribu dan jarang di antara mereka membawa peralatan yang memadai. Salah satu contohnya adalah nelayan di Kenjeran, Surabaya, mereka tidak membawa perlengkapan/peralatan khusus untuk menjaga kualitas ikan yang di dapat.
Baca Juga: Benarkah Matahari Akan Padam dan Menyebabkan Kepunahan?
Berdasarkan hasil pengamatan Reza, beberapa nelayan ada yang membawa es, bahkan ada juga yang tidak membawa es sama sekali. “Padahal kita lihat penyimpanan menggunakan es itu sebenarnya kalau di laut sering sekali cepat habis karena kita tahu panas di laut cukup tinggi, sehingga memudahkan es untuk mencair,” tambahnya.
Dalam pengujiannya, ES-PORT masih dalam bentuk prototipe alfa yang disesuaikan dengan kebutuhan energi dari sistem termoelektriknya. Mahasiswa ITS itu menggunakan 2 termoelektrik, di mana 1 termo membutuhkan daya 30 watt.
Suplai energi pada termo tidak selalu membutuhkan daya 60 watt untuk kedua termo. Namun, proses pendinginannya akan berkurang dan tidak bisa maksimal, “Bisa dingin, tapi tidak akan mencapai suhu terdinginnya,” ungkap Reza.