Ucapan tersebut sontak mengundang tepuk tangan panjang dari para hadirin. Tidak sedikit tamu undangan yang tampak terharu mendengar kisah perjalanan akademik ayah dan anak tersebut. Banyak pihak menilai momen itu bukan hanya unik, tetapi juga sarat makna. Kisah tersebut menggambarkan hubungan ayah dan anak yang tidak hanya dekat secara emosional, tetapi juga sama-sama memiliki semangat besar dalam dunia pendidikan.
Di tengah kesibukannya sebagai profesional di salah satu BUMN, Lasarus tetap memilih melanjutkan pendidikan doktoral. Sementara Elvina, yang sejak awal bercita-cita menjadi dokter, memulai perjuangan panjang di dunia kedokteran yang dikenal sangat kompetitif dan penuh tantangan akademik. Meski berasal dari generasi berbeda, keduanya menjalani ritme kehidupan kampus yang hampir serupa. Mereka sama-sama menghadapi tugas kuliah, ujian, penelitian, presentasi akademik, hingga tekanan untuk menyelesaikan studi dengan hasil terbaik.
Keluarga menyebut perjalanan tersebut sebagai pengalaman yang penuh perjuangan sekaligus kebersamaan. Ada kalanya ayah dan anak sama-sama mengerjakan tugas hingga larut malam, berdiskusi tentang dunia kampus, bahkan saling memberi semangat ketika menghadapi tekanan akademik.
“Anak calon dokter, bapak calon doktor,” ujar keluarga sambil mengenang masa-masa awal kuliah mereka di UGM.
Kalimat sederhana itu kemudian menjadi simbol yang melekat pada perjalanan akademik keduanya. Banyak warganet dan sivitas akademika menilai kisah tersebut sebagai gambaran nyata tentang budaya belajar dalam keluarga yang dibangun melalui keteladanan, disiplin, dan dukungan satu sama lain. Bagi sebagian orang, kisah ini mungkin terdengar sederhana. Namun di lingkungan akademik, perjalanan ayah dan anak yang memulai pendidikan tinggi bersama di universitas yang sama merupakan hal yang sangat jarang terjadi.
Kini, hampir empat tahun setelah hari bersejarah itu, perjalanan mereka berbuah manis. Sang ayah telah menyelesaikan studi doktoralnya dengan predikat wisudawan terbaik dan IPK sempurna 4,00. Sementara sang anak berhasil menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran dengan predikat Cumlaude dan IPK 3,88. Dari hari pertama mengenakan almamater hingga sama-sama berdiri di panggung prestasi, kisah mereka menjadi bukti bahwa pendidikan dapat menjadi perjalanan keluarga yang penuh inspirasi dan makna. Kesuksesan Elvina ini juga menjadi inspirasi dan motivasi buat adiknya, Yukio Marsa Yudhistira yang juga menjadi mahasiswa di salah satu PTN di Indonesia pada tahun 2026 ini.
Kisah keluarga Lasarus Bambang dan Elvina Marla Banowati tidak hanya menjadi perhatian dalam prosesi wisuda Universitas Gadjah Mada tahun 2026, tetapi juga berkembang menjadi simbol inspiratif tentang arti pendidikan dalam keluarga Indonesia modern. Di tengah berbagai cerita tentang persaingan akademik dan tekanan dunia pendidikan tinggi, perjalanan ayah dan anak ini justru menghadirkan wajah lain dari pendidikan: tentang keteladanan, kedekatan emosional, dan kebersamaan keluarga meraih cita-cita.