Niat mulia itu bukan sekadar wacana. Dengan penuh perjuangan, bahkan sempat harus berutang ke bank, Nur Ali bersama suaminya akhirnya berhasil membeli lahan yang kini telah resmi dihibahkan melalui Kementerian Agama.
Ia menegaskan, sejak awal tanah tersebut tidak pernah diniatkan sebagai harta warisan keluarga. “Tanah ini memang diniatkan untuk kepentingan umat, bukan untuk kepemilikan pribadi,” katanya.
Nur Ali juga meyakini bahwa pengelolaan madrasah di bawah naungan negara akan menjamin keberlanjutan pendidikan. “Saya ingin madrasah ini benar-benar menjadi milik umat dan negara. Jika dikelola Kementerian Agama, insya Allah bisa bertahan dan terus melayani pendidikan anak-anak,” ujarnya.
Hibah lahan ini menjadi cerminan nilai keikhlasan dan pengabdian sejati seorang pendidik. Nur Ali berharap dari tanah tersebut kelak lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi bangsa.
Ia pun menitipkan pesan menyentuh kepada para guru madrasah di seluruh Indonesia. “Marilah kita semua berniat tulus dan ikhlas untuk memperluas pendidikan agama. Dengan pendidikan agama, anak-anak bangsa akan menjadi generasi yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Sesuai semboyan kita, ikhlas beramal,” tuturnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)