Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Haru Nur Ali, Guru di Tapanuli Selatan yang Hibahkan 7.500 Meter Tanahnya untuk Bangun Sekolah

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Jum'at, 23 Januari 2026 |11:01 WIB
Kisah Haru Nur Ali, Guru di Tapanuli Selatan yang Hibahkan 7.500 Meter Tanahnya untuk Bangun Sekolah
Kisah Haru Nur Ali, Guru di Tapanuli Selatan yang Hibahkan 7.500 Meter Tanahnya untuk Bangun Sekolah (Foto: Kemenag)
A
A
A

JAKARTA – Kisah haru datang dari dunia pendidikan di Tapanuli Selatan. Di tengah upaya warga bangkit dari duka pascabanjir, sosok guru bernama Nur Ali Harahap, S.Pd.I. menghadirkan harapan lewat ketulusan luar biasa. Kepala MTsN 7 Tapanuli Selatan ini menghibahkan tanah seluas 7.500 meter persegi miliknya untuk pembangunan dan pengembangan madrasah.

Keputusan besar tersebut diambil Nur Ali hanya empat bulan menjelang masa pensiunnya pada Agustus 2025. Bagi Nur Ali, pengabdian selama lebih dari 20 tahun sebagai guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup untuk memajukan pendidikan agama di daerahnya.

Tanah yang dihibahkan berada di wilayah Angkola Selatan, kawasan yang dulunya belum memiliki madrasah. Melalui hibah ini, Nur Ali berharap akses pendidikan agama bagi generasi muda dapat semakin terbuka dan berkelanjutan.

Perjalanan Hidup Penuh Perjuangan

Lulusan Pendidikan Guru Agama (PGA) tahun 1990 ini mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh liku. Ia pernah merantau ke berbagai daerah, bahkan bekerja sebagai tenaga kerja di Arab Saudi. Pengalaman hidup di perantauan justru menguatkan keyakinannya akan pentingnya pendidikan agama bagi anak-anak bangsa.

“Dulu di Angkola Selatan belum ada madrasah. Dari situlah muncul niat saya dan suami, kalau suatu hari punya rezeki membeli tanah, kami ingin menghibahkannya untuk madrasah,” ujar Nur Ali, dikutip dari laman Pendis Kemenag, Jumat (23/1/2026).

Tanah Diniatkan untuk Umat Sejak Awal

Niat mulia itu bukan sekadar wacana. Dengan penuh perjuangan, bahkan sempat harus berutang ke bank, Nur Ali bersama suaminya akhirnya berhasil membeli lahan yang kini telah resmi dihibahkan melalui Kementerian Agama.

Ia menegaskan, sejak awal tanah tersebut tidak pernah diniatkan sebagai harta warisan keluarga. “Tanah ini memang diniatkan untuk kepentingan umat, bukan untuk kepemilikan pribadi,” katanya.

Nur Ali juga meyakini bahwa pengelolaan madrasah di bawah naungan negara akan menjamin keberlanjutan pendidikan. “Saya ingin madrasah ini benar-benar menjadi milik umat dan negara. Jika dikelola Kementerian Agama, insya Allah bisa bertahan dan terus melayani pendidikan anak-anak,” ujarnya.

Pesan Ikhlas Seorang Pendidik

Hibah lahan ini menjadi cerminan nilai keikhlasan dan pengabdian sejati seorang pendidik. Nur Ali berharap dari tanah tersebut kelak lahir generasi yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi bangsa.

Ia pun menitipkan pesan menyentuh kepada para guru madrasah di seluruh Indonesia. “Marilah kita semua berniat tulus dan ikhlas untuk memperluas pendidikan agama. Dengan pendidikan agama, anak-anak bangsa akan menjadi generasi yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Sesuai semboyan kita, ikhlas beramal,” tuturnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement