SEMARANG - Ratusan mahasiswa ikut mendaftar ajang Bug Bounty Competition 2023 yang digelar oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kompetisi ini berawal dari banyaknya berbagai isu siber yang kemudian mendorong EDU CSIRT (Education Computer Security Incident Response Team) Pusdatin Kemendikbudristek menginisiasi kegiatan bertajuk Bug Bounty Competition Kemendikbudristek.
Pada ajang Bug Bounty Competition 2023, diterima 208 laporan temuan celah kerawanan dari 10 aplikasi yang dimiliki 5 unit kerja di Kemendikbudristek. Aplikasi yang ditetapkan sebagai target tentunya telah dilakukan asesmen kelayakan oleh Education Computer Security Incident Response Team (EDU CSIRT), Pusdatin, Kemendikbudristek. Para peserta ditantang untuk mengatasi insiden kejahatan siber.
BACA JUGA:
Dari tahun ke tahun, ajang Bug Bounty Competition menyedot atensi masyarakat, tahun ini peserta terbanyak dari kalangan mahasiswa. Pada tahun ke-2 ini, penyelenggaraan ajang Bug Bounty Competition mengangkat tema Action for Prevention. Ajang ini akan menjadi kegiatan rutin tahunan Kemendikbudristek untuk kalangan insan pendidikan sebagai wujud kolaborasi antarsatuan kerja (satker) dan para bug hunter dalam mengawal implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) di Kemendikbudristek.
BACA JUGA:
“Terjadi peningkatan yang cukup signifikan dari jumlah peserta yang terdaftar. Pada tahun 2022 tercatat sejumlah 228 peserta, sedangkan di tahun 2023 jumlah peserta terdaftar mencapai 504 peserta,” ucap Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi (Kapusdatin) Kemendikbudristek, Hasan Chabibie dalam keterangan resmi kepada Okezone, Sabtu (26/8/2023).
Pada kategori pendidik, peserta yang terdaftar berjumlah total 151 peserta, dengan rincian 123 guru dan 28 dosen. Sedangkan untuk kategori peserta didik berjumlah 353 pendaftar dengan dominasi dari kalangan mahasiswa sebanyak 297 peserta dan kalangan siswa sebanyak 56 peserta.