Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

4 Guru Paling Terkenal di Indonesia, dari Ki Hajar Dewantara hingga Een Sukaesih

Ajeng Wirachmi , Jurnalis-Sabtu, 11 Februari 2023 |07:13 WIB
4 Guru Paling Terkenal di Indonesia, dari Ki Hajar Dewantara hingga Een Sukaesih
Ki Hadjar Dewantara/Google Images
A
A
A

Diketahui, kala itu hanya para priyayi dan orang Belanda yang berhak mendapatkan pendidikan di sekolah formal. Ia juga mengajukan konsep pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan.

Konsep tersebut biasa disebut sebagai Tri Pusat Pendidikan, yakni pendidikan keluarga, pendidikan dalam alam perguruan, dan pendidikan dalam alam pemuda atau masyarakat.

Dalam buku ‘Ki Hajar Dewantara: Pemikiran dan Perjuangannya’, yang diproduksi oleh Museum Kebangkitan Nasional tahun 2017, Ki Hajar Dewantara juga terkenal sebagai jurnalis yang bekerja untuk beberapa surat kabar, seperti Midden Java, De Expres, Soeditomo, Oetoesan Hindia, Tjahaja Timoer, Kaoem Moeda, dan Poesara.

Sederet surat kabar tersebut melempar berbagai kritik sosial dan politik dari kaum bumiputra kepada para penjajah.

2. H.O.S. Tjokroaminoto

Selanjutnya, ada sosok Raden Mas Haji Oemar Said Tjokroaminoto yang lebih dikenal dengan H.O.S. Tjokroaminoto.

Ia berjuluk ‘Guru Bangsa’ atau ‘Guru Para Pemimpin’, lantaran banyak tokoh besar yang menimba ilmu kepadanya. Melansir Jurnal Dakhwah dan Komunikasi (2020) bertajuk ‘Haji Oemar Said Tjokroaminoto: Biografi, Dakwah dan Kesejahteraan Sosial’, Tjokroaminoto merupakan guru politik dan juga tokoh pergerakan nasional yang memberikan kontribusi serta pengaruh besar dalam dinamika politik dalam negeri.

Ia lahir di Ponorogo, 16 Agustus 1883 dan wafat di Yogyakarta, 17 Desember 1934. Salah satu pemimpin Sarekat Islam ini merupakan guru dari Soekarno, Alimin, Muso, Kartosoewiryo, dan Abikoesno.

Ia juga merupakan ayah dari Siti Oetari, istri pertama Soekarno.

3. Dewi Sartika

Nama Dewi Sartika patut masuk sebagai guru berpengaruh dan terkenal di Indonesia.

Melalui pemikiran-pemikirannya, ia menyerukan agar perempuan mendapat akses pendidikan yang setara dengan kaum pria.

Dewi Sartika merupakan putri Sunda kelahiran Cicalengka, 4 Desember 1884. Lahir dari keluarga ningrat, tak membuat Dewi hidup nyaman dan menikmati segala fasilitas.

Ia justru berjuang demi adanya kesetaraan, antara kaum wanita dan pria.

Melansir informasi yang ada dalam Jurnal Ilmiah Peradaban Islam (2020) dengan judul ‘Pemikiran Dewi Sartika Pada Tahun 1904-1947 Dalam Perspektif Islam’, Dewi mendapat pendidikan Eropa karena status sosialnya.

Ia bahkan menerima pelajaran bahasa Belanda, Inggris, dan bidang ilmu lainnya di HIS (Hollandsch Inlandshe School).

Namun, Dewi dikeluarkan dari sekolah lantaran sang ayah, R. Rangga Somanagara yang kala itu menjadi Patih Bandung, dituduh melakukan percobaan pembunuhan kepada Bupati Bandung yang baru, R.A.A. Martanagara.

Setelahnya, ayah Dewi diasingkan ke Ternate, ditemani istrinya. Dewi Sartika dititipkan di rumah pamannya, Raden Demang Suria Kartahadiningrat, yang juga Patih Aria Cicalengka.

Ketika remaja, Dewi mulai belajar pendidikan sederhana, seperti menjahit, menyulam, dan sopan santun.

Dewi Sartika mendirikan sekolah khusus perempuan di pendopo Kabupaten Bandung pada 16 Januari 1904 bernama Sakola Kautamaan Istri.

Halaman:
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement