Share

5 Fakta Mahasiswa UNY Meninggal setelah Tak Sanggup Bayar UKT, Politisi Turut Menyoroti

Natalia Bulan, Okezone · Sabtu 21 Januari 2023 06:06 WIB
https: img.okezone.com content 2023 01 20 65 2750243 5-fakta-mahasiswa-uny-meninggal-setelah-tak-sanggup-bayar-ukt-politisi-turut-menyoroti-iqMtUd9PWF.jpg UNY/Dok. UNY

 

JAKARTA- Baru-baru ini pemberitaan dihebohkan dengan adanya kejadian seorang mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang meninggal setelah tidak bisa membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT).

Dia adalah Nur Riska Fitri Aningsih yang meninggal pada 9 Maret 2022 dan kisahnya dibagikan oleh sahabatnya sendiri yang merasakan kehilangan mendalam ketika mendiang mengembuskan napas terakhirnya.

Simak fakta-fakta terkait kejadian ini selengkapnya di sini!

1. Viral di media sosial

 

Kisah Riska menjadi viral di media sosial karena dibagikan oleh sang sahabat mendiang di kampus melalui akun Twitter bernama @rgantas.

 BACA JUGA:Deretan Kampus dengan Jurusan Pendidikan Kepolisian Terbaik Indonesia, dari SPN hingga UI

Melalui akun Twitter-nya ia menceritakan perjuangan Rika agar bisa kuliah dan membayar UKT yang angkanya cukup membebani dia dan kedua orangtuanya.

"Riska mengambil jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Sosial UNY. Selama kuliah dia terkendala dan tidak bisa membayar UKT," jelas Ganta.

Follow Berita Okezone di Google News

Menurut Ganta, Riska mengalami permasalahan UKT karena harus membayar sebesar Rp 3,14 juta. Saat hendak mendaftar tersebut dia sebenarnya sudah memilih pembayaran UKT sesuai kemampuan pendapatan orangtuanya.

Namun sayang, perjuangan Riska untuk mendapatkan UKT yang lebih rendah berulang kali gagal karena birokrasi kampus yang menyulitkannya.

2. Meninggal karena hipertensi

Setelah perjuangannya agar tetap bisa kuliah, mahasiswa angkatan tahun 2020 ini meninggal pada 9 Maret 2022.

Ia meninggal setelah didiagnosis sakit hipertensi parah. Saat masih hidup, Riska sepmat berkali-kali merasa stres karena kesulitan membayar UKT tiap semesternya.

3. Berjuang keras minta keringanan UKT

Riska mengalami permasalahan UKT karena ia harus membayar sebesar Rp3,14 juta. Pada saat mendaftar sebenarnya dia sudah memilih pembayaran UKT sesuai kemampuan orangtuanya.

Namun karena ada kendala pendaftaran karena ia tidak memiliki gawai yang memadahi dan harus pinjam ke tetangganya, nominal UKT yang ia dapatkan Rp 3,14 juta per semesternya.

Meski demikian, dengan semangat yang tinggi Riska berangkat ke Yogyakarta berbekal uang Rp 139 ribu.

Untuk biaya hidup Riska bahkan bekerja paruh waktu hingga makan seadanya. Dia juga berjuang untuk mendapatkan keringanan ke pihak kampus.

Semangat Riska untuk berkuliah tetap tinggi meski harus dibantu guru-guru sekolah dan rekan kampusnya dalam membayar UKT sembari terus meminta keringanan UKT.

Namun upaya mendapatkan keringanan UKT harus kandas karena birokrasi.

"Bahkan dia kayak dipingpong. Padahal untuk ke kampus Riska harus jalan kaki dari kosnya di daerah Pogung. Riska memang tak memiliki biaya untuk sekedar memanggil ojek online," terang dia.

Riska baru bisa minta keringanan setelah semester dua. Pihak kampus pun akhirnya menyanggupi keringanan UKT. Namun UNY hanya mengurangi Rp 600 ribu dari total UKT yang harus dibayarkan.

4. Riska hidup seadanya di Yogyakarta

Kesulitan membayar UKT, Riska juga harus berjuang menjalani hidupnya di Yogyakarta dengan seadanya.

Ia sering mendapatkan bantuan dari teman-temannya seperti abon yang ia jadikan lauk makannya selama beberapa hari.

Ia juga tak punya biaya untuk transport sehari-hari untuk kuliah, maka ia harus berjalan kaki dari kosnya yang terletak di Pogung ke UNY.

Peralatan mandi di kosan pun ia dapatkan dari bantuan teman-teman kosnya yang bersimpati kepadanya.

"Kabar terakhir, Riska mengajukan cuti. riska samasekali tak masuk kuliah dan tiba-tiba dirawat di rumah sakit hingga akhirnya meninggal dunia," jelas Ganta.

5. Dapat sorotan dari politisi

Kisah pilu Riska menjadi sorotan politisi, Juru bicara DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Furqan menyebutkan pihaknya semakin yakin bahwa kuliah gratis untuk seluruh rakyat Indonesia adalah sebuah keniscayaan.

"Siapapun yang membaca kisah Riska, mahasiswi Program Studi Pendidikan Sejarah angkatan 2020 ini di utas Twitter sahabatnya @rgantas, pasti akan teriris hatinya, bagai disayat-sayat sembilu," ujar Furqan, Senin (16/1/2023).

Menurut Furqan, Riska tidak sendiri, ada ribuan bahkan mungkin jutaan Riska-Riska lainnya harus menggantang nasib ingin jadi sarjana di Republik ini. Tak peduli di kampus negeri apalagi swasta.

Menurutnya, beasiswa-beasiswa yang ada hanya menjadi katup-katup pengaman sosial, yang hanya memoderasi krisis pendidikan yang makin hari makin akut.

Mengandalkan kedermawanan tak cukup menutupi lubang krisis yang menganga di jantung pendidikan.

"Karena itu solusinya tak bisa lagi hanya charity, pendidikan harus direvolusi, kuliah gratis adalah tuntutan suci, yang harus direbut sampai mati," pungkasnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini