Share

Mengenal SmartPond, Alat Pendeteksi Kualitas Air Kolam dan Kematian Ikan Buatan Mahasiswa UGM

Tim Okezone, Okezone · Jum'at 02 Desember 2022 18:10 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 02 65 2719529 mengenal-smartpond-alat-pendeteksi-kualitas-air-kolam-dan-kematian-ikan-buatan-mahasiswa-ugm-myZ9vvy470.jpg Smartpond, aplikasi karya mahasiswa UGM/Dok. UGM

YOGYAKARTA - Sekelompok mahasiswa Sekolah Vokasi (VS) Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan sebuah aplikasi untuk memonitor kualitas air kolam budi daya ikan.

Mereka membuat sebuah aplikasi yang diberi nama S-POND yang dirancang untuk bisa mendeteksi perubahan PH, suhu kolma, suhu lingkungan, kelembaban, oksigen terlarut (DO), bahkan hingga kematian ikan.

Dikutip dari laman resmi UGM, S-POND diciptakan oleh Bintang Ramadhan, Saarah Khairunnisa, Kaisa Fadhilah, Rizky Nur, dan Latief Hasyim.

Aplikasi ini dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) UGM bidang Karsa Cipta di bawah bimbingan drh. Dela Ria Nesti M.Sc.

Bintang menjelaskan pengembangan aplikasi ini bermula dari keprihatinan mereka terhadap persoalan yang banyak dialami para petani atau pembudidaya ikan nila.

Salah satu persoalan utamanya adalah terkait kematian ikan akibat perubahan kualitas air kolam. Kondisi itu mengakibatkan kerugian besar bagi petani ikan.

Follow Berita Okezone di Google News

“Tindakan pencegahan berupa monitoring kondisi kolam dapat dilakukan petani ikan untuk mencegah kerugian akibat kematian massal ikan. Namun, monitoring pada umumnya dilakukan secara langsung melalui pengamatan di kolam atau menggunakan alat ukur yang dioperasikan secara manual,” papar Bintang, Kamis (1/12/2022).

Oleh sebab itu, kelima mahasiswa muda ini memutar otak untuk mengembangkan alat berbasis internet of things (IoT) dan management data system untuk mendeteksi dan memonitor kualitas air, kematian ikan secara berkala, dan mengetahui kondisi cuaca di sekitar kolam.

Harapannya dengan alat tersebut bisa membantu dan memudahkan pembudidaya ikan mendapatkan informasi dengan cepat melalui smartphone.

Petani ikan juga dapat melakukan penanganan dini apabila terjadi kematian ikan sehingga menjegah kerugian yang besar.

Prototipe SmartPond dirancang dengan dimensi 40×28×15 cm, bobot 0,5 kg, dan body box terbuat dari aluminium.

Prototipe menggunakan sumber daya listrik dengan input 220v pada AC current dan output 12v pada DC current.

Prototipe SmartPond dapat mendeteksi kualiatas air dan ikan mati menggunakan alat sensor yang dipasang pada tepi kolam dengan lima sensor, yaitu sensor ultrasonik, pH, suhu, dan dissolve oxygen.

Sensor ultrasonik memiliki jangkauan 420 cm pada range 75 derajat sehingga dapat maksimal pada kolam ikan dengan ukuran 3×4 meter persegi.

“Aplikasi S-POND difungsikan untuk memonitoring parameter kondisi kolam dan kematian ikan. Parameter yang tertampil dalam aplikasi S-POND meliputi pH, suhu kolam, suhu lingkungan, DO, dan kelembapan lingkungan, serta lokasi keberadaan kolam,” urai Bintang.

Berikutnya, hasil pendeteksian disalurkan pada master control unit untuk selanjutnya dikirim pada aplikasi SmartPond.

Informasi secara real time dapat diketahui melalui notifikasi yang akan muncul pada layar tampilan aplikasi yang ter-install di smartphone.

Recording data akan disimpan selama seminggu melalui database dalam bentuk soft file di spreadsheet sehingga memungkinkan pemilik untuk melakukan evaluasi dan analisis kondisi kolam selama seminggu.

Prototype SmartPond telah diujikan pada kolam ikan dalam laboratorium dan kolam ikan nila kelompok tani Mina Rukun Kuton, Tegaltirto, Berbah, Sleman dengan alat berstandar SNI sebagai kontrol dan penentu keakuratan prototipe SmartPond.

Berdasarkan pengujian, prototype SmartPond telah mencapai 99.986% akurat saat dibandingkan dengan alat berstandar SNI.

“Sistematika pendeteksian ikan mati, yaitu ikan mati akan mengapung akibat pembusukan terjadi di saluran pencernaan sehingga gas CO2 membuat perut ikan menggembung dan mengapung di permukaan air. Ikan akan terdeteksi sebagai ikan mati apabila tidak mengalami pergerakan aktif selama 1 jam,” imbuh Latief.

Latif mengatakan bahwa pengembangan prototype SmartPond akan terus dilakukan terutama untuk mengoptimalkan parameter deteksi, durasi penyimpanan database serta intergrasi sistem prototype dengan treatment tools.

Sejauh ini alat dapat terkoneksi dengan pompa oksigen sehingga apabila kadar oksigen di air berkurang di bawah batas normal maka sistem dapat mengaktifkan pompa oksigen secara otomatis melalui aplikasi.

“Ke depannya pengembangan prototype akan terfokus pada parameter lainnya sehingga diharapkan alat ini menjadi early warning dan comprehensive monitoring system bagi petani ikan,” tuturnya.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini