Share

Media Sosial sebagai Sumber Kecemasan Remaja dan Bagaimana Cara Mencegahnya

Fatiah Zahra Adinda, Presma · Rabu 16 November 2022 07:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 16 65 2708387 media-sosial-sebagai-sumber-kecemasan-remaja-dan-bagaimana-cara-mencegahnya-KOyYFsk9RV.jpg Ilustrasi/Freepik

Bagi seseorang yang sudah ketergantungan atau kecanduan bermain media sosial, mereka cenderung akan lebih mementingkan dunia maya dibandingkan dunia nyata.

Misalnya, pada platform Instagram, pengguna mengunakannya untuk membagikan momen berupa foto atau video ke akunnya. Kebanyakan orang lebih sering membagikan momen bahagia milik mereka.

Hal ini dapat membuat seorang remaja yang masih labil dalam pemikirannya, menganggap bahwa semua orang merasakan bahagia, kecuali dirinya.

Maka, individu tersebut akan lebih sering menyalahkan dirinya sendiri dan memandang negatif kehidupannya. Padahal, momen bahagia yang diunggah di media sosial belum tentu menandakan bahwa kehidupan seseorang itu selalu bahagia.

Selaras dengan teori Jean Piaget dan Erik Erikson yang mengatakan bahwa usia remaja merupakan usia yang sedang mencari jati diri, sehingga pemikirannya belum matang (Santrock, 2011).

Remaja juga memiliki sifat egosentrisme ketika mereka merasa bahwa mereka harus menjadi yang terbaik dan tidak mau disaingi.

Mereka akan ‘berputar otak’ untuk mencari cara agar dirinya menjadi lebih dari yang lain.

Mereka pun rela melakukan semua cara agar dapat viral dan dikenal oleh banyak orang.

Mereka terus-terusan menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal apa yang dapat dilakukan.

Jika mereka tidak menemukannya, mereka cenderung akan merasa cemas dan khawatir.

Seseorang yang terlanjur bergantung pada kehidupan media sosial akan menganggap bahwa ia harus mengikuti apa yang sedang hangat diperbincangkan atau biasa disebut tren.

Kecemasan akan timbul apabila individu tersebut gagal dalam mengikuti tren yang ada. Mereka akan menganggap bahwa dirinya tidak akan diterima oleh lingkungan sosialnya karena dinilai kurang up-to-date.

Seseorang yang lebih sering berinteraksi di dunia maya juga akan kesulitan saat berinteraksi dengan orang-orang di kehidupan yang sebenarnya atau dunia nyata.

Biasanya, orang-orang seperti ini cenderung merasa nyaman untuk berinteraksi secara virtual karena dapat menjadi seorang anonim.

Mereka lebih nyaman karena identitasnya tidak perlu diketahui, sehingga mereka bisa lebih ekspresif dalam berinteraksi.

Mereka tidak perlu khawatir apabila melakukan kesalahan, karena tidak ada yang mengenalnya. Hal ini akan menyebabkan seseorang kesulitan saat menghadapi atau bersosialisasi dengan orang lain di kehidupan nyata, bahkan dapat menyebabkan kecemasan atau ketakutan yang berlebih bagi beberapa orang.

Ketergantungan terhadap media sosial dapat memiliki banyak sekali dampak buruk. Seseorang akan kehilangan fokus saat mengerjakan pekerjaannya di dunia nyata, karena ia terus-terusan memikirkan apa yang terjadi di dunia maya dan mengabaikan apa yang sebenarnya terjadi.

Seseorang yang ketergantungan media sosial juga akan merasa cemas apabila lepas dari gawainya atau ketika tidak ada koneksi internet.

Ketika mereka tidak dapat mengakses media sosialnya, mereka merasa kehidupannya kosong dan tidak dapat melanjutkan aktivitas lainnya.

Penjabaran mengenai perilaku remaja dalam media sosial selaras dengan penelitian yang dilakukan Yang, S., (2019) yang mendapatkan hasil bahwa adanya hubungan antara kecanduan internet pada mahasiswi SMP (tergolong usia remaja) dengan depresi atau rasa cemas.

Hal ini tentunya perlu mendapat perhatian khusus agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Kecemasan remaja ini diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19 yang membuat orang-orang kebingungan untuk menghabiskan waktu luangnya.

Follow Berita Okezone di Google News

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini