Share

Media Sosial sebagai Sumber Kecemasan Remaja dan Bagaimana Cara Mencegahnya

Fatiah Zahra Adinda, Presma · Rabu 16 November 2022 07:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 16 65 2708387 media-sosial-sebagai-sumber-kecemasan-remaja-dan-bagaimana-cara-mencegahnya-KOyYFsk9RV.jpg Ilustrasi/Freepik

JAKARTA - Media sosial tidak dapat terlepas dari keseharian remaja. Mereka mampu menghabiskan waktu berjam-jam saat membuka aplikasi media sosial.

Alasannya pun beragam, mulai dari mengerjakan hal yang serius atau sekadar mencari hiburan. Banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh remaja saat menggunakannya.

Terlebih pada masa pandemi ini, banyak tugas kuliah yang mengharuskan mahasiswanya mengunggah hasil tugas-tugasnya ke media sosial, sehingga setidaknya seorang siswa harus memiliki satu akun media sosial.

Hal tersebut sebetulnya dapat dijadikan sebagai momen untuk meningkatkan kemampuan ‘melek’ internet, karena segala kebutuhan materi saat ini akan disampaikan atau didapatkan melalui daring.

Mahasiswa juga dapat memanfaatkan akses internet untuk melatih soft skill masing-masing pada berbagai platform media sosial yang tersedia, misalnya YouTube, Instagram, atau Webinar.

Namun sayangnya, aktivitas yang dilakukan di media sosial sulit dibatasi. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif bagi pengguna media sosial hingga menyebabkan kecemasan bagi penggunanya.

Bagi seseorang yang sudah ketergantungan atau kecanduan bermain media sosial, mereka cenderung akan lebih mementingkan dunia maya dibandingkan dunia nyata.

Misalnya, pada platform Instagram, pengguna mengunakannya untuk membagikan momen berupa foto atau video ke akunnya. Kebanyakan orang lebih sering membagikan momen bahagia milik mereka.

Hal ini dapat membuat seorang remaja yang masih labil dalam pemikirannya, menganggap bahwa semua orang merasakan bahagia, kecuali dirinya.

Maka, individu tersebut akan lebih sering menyalahkan dirinya sendiri dan memandang negatif kehidupannya. Padahal, momen bahagia yang diunggah di media sosial belum tentu menandakan bahwa kehidupan seseorang itu selalu bahagia.

Selaras dengan teori Jean Piaget dan Erik Erikson yang mengatakan bahwa usia remaja merupakan usia yang sedang mencari jati diri, sehingga pemikirannya belum matang (Santrock, 2011).

Remaja juga memiliki sifat egosentrisme ketika mereka merasa bahwa mereka harus menjadi yang terbaik dan tidak mau disaingi.

Mereka akan ‘berputar otak’ untuk mencari cara agar dirinya menjadi lebih dari yang lain.

Mereka pun rela melakukan semua cara agar dapat viral dan dikenal oleh banyak orang.

Mereka terus-terusan menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal apa yang dapat dilakukan.

Jika mereka tidak menemukannya, mereka cenderung akan merasa cemas dan khawatir.

Seseorang yang terlanjur bergantung pada kehidupan media sosial akan menganggap bahwa ia harus mengikuti apa yang sedang hangat diperbincangkan atau biasa disebut tren.

Kecemasan akan timbul apabila individu tersebut gagal dalam mengikuti tren yang ada. Mereka akan menganggap bahwa dirinya tidak akan diterima oleh lingkungan sosialnya karena dinilai kurang up-to-date.

Seseorang yang lebih sering berinteraksi di dunia maya juga akan kesulitan saat berinteraksi dengan orang-orang di kehidupan yang sebenarnya atau dunia nyata.

Biasanya, orang-orang seperti ini cenderung merasa nyaman untuk berinteraksi secara virtual karena dapat menjadi seorang anonim.

Mereka lebih nyaman karena identitasnya tidak perlu diketahui, sehingga mereka bisa lebih ekspresif dalam berinteraksi.

Mereka tidak perlu khawatir apabila melakukan kesalahan, karena tidak ada yang mengenalnya. Hal ini akan menyebabkan seseorang kesulitan saat menghadapi atau bersosialisasi dengan orang lain di kehidupan nyata, bahkan dapat menyebabkan kecemasan atau ketakutan yang berlebih bagi beberapa orang.

Ketergantungan terhadap media sosial dapat memiliki banyak sekali dampak buruk. Seseorang akan kehilangan fokus saat mengerjakan pekerjaannya di dunia nyata, karena ia terus-terusan memikirkan apa yang terjadi di dunia maya dan mengabaikan apa yang sebenarnya terjadi.

Seseorang yang ketergantungan media sosial juga akan merasa cemas apabila lepas dari gawainya atau ketika tidak ada koneksi internet.

Ketika mereka tidak dapat mengakses media sosialnya, mereka merasa kehidupannya kosong dan tidak dapat melanjutkan aktivitas lainnya.

Penjabaran mengenai perilaku remaja dalam media sosial selaras dengan penelitian yang dilakukan Yang, S., (2019) yang mendapatkan hasil bahwa adanya hubungan antara kecanduan internet pada mahasiswi SMP (tergolong usia remaja) dengan depresi atau rasa cemas.

Hal ini tentunya perlu mendapat perhatian khusus agar tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Kecemasan remaja ini diperparah dengan kondisi pandemi Covid-19 yang membuat orang-orang kebingungan untuk menghabiskan waktu luangnya.

Maka, kebanyakan orang menjadikan media sosial sebagai coping stress mereka. Namun, alih-alih menjadi coping stress, waktu yang terlalu lama untuk menghabiskan waktu bermain sosial media dapat membuat seseorang ketergantungan.

Hal ini pun selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Zhang, C., dkk. (2020) yang menyatakan bahwa pandemi Covid-19 memberikan dampak psikologis pada remaja.

Untuk mencegah ketergantungan media sosial dan kecemasan yang timbul, kita perlu melakukan beberapa hal yang positif, seperti:

Melakukan self-healing. Self-healing dapat dilakukan dengan melakukan mindfulness (Papenfuss, I., dkk., 2020), yaitu dengan menempatkan pikiran dan perasaan kita berada pada saat ini, tidak mengembara ke masa lalu ataupun masa depan.

Selanjutnya dengan guided imagery (Leigh, E., dkk., 2019), yaitu dengan memejamkan mata dan membayangkan suatu hal yang menyenangkan. Meskipun hal ini bersifat jangka pendek, namun dapat dijadikan sebagai pertolongan pertama. Lalu melakukan self-talk, yaitu dengan berbicara kepada diri sendiri dengan kalimat positif.

Melakukan pendekatan spiritualisme, hal ini dapat dilakukan dengan menulis jurnal kebersyukuran, yaitu dengan menulis hal-hal kecil yang dapat membuat kita merasa bersyukur setiap hari.

Membatasi penggunaan media sosial, kita perlu membatasi waktu dan menggantikannya dengan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat atau produktif.

Menyadari bahwa dunia maya adalah dunia yang semu, kita tidak boleh terlena dengan apa yang terjadi di media sosial dan harus tetap fokus dengan apa yang sebenarnya terjadi.

Fatiah Zahra Adinda

 

Aktivis Persma Eryhthro FK UNS

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini