Share

Korps Mahasiswa Komako UGM Ajak Kaum Muda Lawan Hoaks untuk Songsong Tahun Politik 2024

Natalia Bulan, Okezone · Selasa 15 November 2022 14:41 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 15 65 2707936 korps-mahasiswa-komako-ugm-ajak-kaum-muda-lawan-hoaks-untuk-songsong-tahun-politik-2024-oRPNuPmGqa.jpg Korps Mahasiswa Komako UGM ajak kaum muda lawan hoaks/YouTube/Departemen Ilmu Komunikasi UGM

YOGYAKARTA - Menyambut Tahun Politik 2024, fenomena gangguan informasi di ranah digital membuat warganet sulit untuk membedakan mana informasi yang palsu serta yang dapat dipercaya.

Pengonsumsian informasi yang tidak akurat ini dapat menjadi sangat berbahaya bagi dinamika politik Indonesia karena dapat menimbulkan situasi panik serta kekacauan, memecah belah masyarakat, meningkatkan diskriminasi, hingga berpengaruh pada pembuatan keputusan dalam aktivitas berpolitik.

Isu ini dibahas oleh Divisi Penelitian dan Pengembangan Korps Mahasiswa Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Diskusi Bulanan bertajuk 'Youth Activism and Fact-Checking: Menjadi Pahlawan Perlawanan Hoaks dalam Menghadapi Tahun Politik 2024'.

 Acara yang bertepatan dengan Hari Pahlawan (10/11/2022) ini mengundang Zainuddin Muda Z. Monggilo, S.I.Kom., M.A. (Dosen Ilmu Komunikasi UGM) sebagai narasumber, serta Arkajendra Ardikanitra (Mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM) sebagai moderator.

Sebagai pemantik, Zainuddin Muda Z. Monggilo memulai topik diskusinya dengan menjelaskan peluang besar yang dimiliki generasi muda Indonesia pada pemilihan umum (Pemilu) tahun 2024.

 Dengan demikian, generasi muda, yang didominasi oleh generasi milenial dan generasi Z, harus sadar politik agar 60% dari generasi muda dapat mengambil andil dan mau berkontribusi pada tata politik Indonesia ke depannya.

Peluang ini kemudian diperbesar pula dengan adanya penetrasi dan kontribusi penggunaan internet per tahun 2022 yang hampir menyentuh angka 100%.

Sayangnya, peluang ini turut diikuti oleh gangguan informasi yang terdapat di jagad digital mIndonesia, berupa misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.

Katadata Insight Center dalam Survei Literasi Digital Indonesia 2021 mencatat bahwa hoaks politik sangat mendominasi menjelang tahun dilaksanakannya pemilihan umum.

Hal ini kemudian diperparah dengan adanya polarisasi politik, momok pascakebenaran (post-truth), efek gelembung (bubble effect/filter bubble), ruang gema (echo-chamber) matinya kepakaran (death of expertise), dan msistem otak yang bekerja lebih emosional (croc brain).

“Bentuk-bentuk tipu muslihat informasi digital tersebut dapat kita lihat melalui iklan-iklan politik

yang (bisa jadi) membawa kita pada kesesatan informasi. Namun dengan segala ancaman

yang ada, saya tetap optimis dan berharap kepada generasi muda untuk selalu menyalurkan

suaranya serta mengambil peran dalam melawan hoaks di tahun politik mendatang,” ungkap Zainuddin, yang juga merupakan pelatih cek fakta tersertifikasi Google News Initiative.

Zainuddin Muda Z. Monggilo turut memperkaya sesi diskusi dengan menyisipkan sudut

pandang mengenai pentingnya literasi dan cek fakta dalam menghadapi tahun politik 2024.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan disiplin verifikasi, mencakup menyunting dengan sikap skeptis, memeriksa akurasi data, menghindari asumsi, dan bersikap waspada terhadap anonimitas.

Tidak hanya sampai di sana, tata kelola dan mitigasi konten digital juga sangat diperlukan untuk memerangi hoaks dan ujaran kebencian. Dalam hal ini, optimalisasi media sosial dengan

cerdas dan bijak, cek fakta terlebih dahulu, dan aktif melawan tipu muslihat di jagat digital

menjadi aspek penting dalam eksistensi serta partisipasi generasi muda pada pesta politik di tahun mendatang.

“Semoga melalui self-regulation yang bersifat kolaboratif dan sistemik, kita bisa menciptakan situasi politik yang lebih bersih, jernih, serta kondusif di tahun 2024 dan tahun-tahun berikutnya,” tutup Zainuddin.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini