Share

Sosiolog UNS Tanggapi Fanatisme Sepakbola yang Kembali Telan Korban

Natalia Bulan, Okezone · Rabu 05 Oktober 2022 14:43 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 05 65 2681144 sosiolog-uns-tanggapi-fanatisme-sepakbola-yang-kembali-telan-korban-fKMv0ubmOA.jpg Sosiolog UNS Dr. Drajat Tri Kartono/Istimewa

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang semakin menjadi-jadi karena adanya "pihak" yang menghalang-halangi ekspresi kekecewaan suporter.

"Karena menghalangi ekspresi itu, kemudian jadilah kaya ngamuk ke semua arah. Bentrok dengan aparat juga. Ya, karena aparat harus berada di tengah-tengah juga. Karena tidak ada Bonek, jadi mereka menyerang ke dalam," ujar Drajat.

Drajat juga menilai bahwa peristiwa tersebut merupakan bukti ketidaksepahaman antara manajemen klub dan suporter. Hal ini dikatakan Dr. Drajat memicu konflik di dalam dan menyulut emosi.

"Bahwa pengorganisasian identity dalam in group itu akan mudah menyerang ke dalam kalau ada perpecahan di dalam kelompok itu," kata Drajat.

Kenapa Fanatisme Seringkali Membawa Kerugian?

Berkaitan dengan kericuhan suporter di Stadion Kanjuruhan yang dipicu kekecewaan suporter karena klub yang dijagokan dipecundangi Persebaya, Dr. Drajat memandang kejadian ini berkaitan dengan fanatisme.

Ia menjelaskan fanatisme seperti pada suporter sepakbola- adalah identifikasi diri yang memasukkan orang-orang ke dalam in group feeling.

Hal ini ditandai dengan kesamaan perasaan, pandangan, dan simbol dalam kelompok yang sama.

"Nah, di dalam in group feeling dibangunlah koneksi yang membangun mereka adalah in group identity. Identitas kelompok kemudian disebarkan ke seluruh anggota dengan harapan mereka punya komitmen penyamaan simbol, persepsi, dan gerak sehingga menjadi satu kesatuan," terangnya.

Dalam hal ini, Drajat menyampaikan bahwa fanatisme berpeluang semakin menjadi-jadi apabila dipengaruhi oleh kompetisi dengan kelompok lain.

Jadi, muncul dorongan untuk melindungi dan memperjuangkan kelompoknya sendiri terhadap kelompok lain.

"Di situ muncullah sebuah komitmen penyatuan identitas yang kemudian harus dipertahankan. Ini diperkuat oleh keterkaitan antara kelompok itu dengan identitas-identitas lain, seperti identitas kedaerahan," jelas Drajat.

Ia mengatakan, fanatisme seringkali membawa kerugian karena memicu orang-orang untuk bersikap tidak toleran.

Menurut Drajat, berkurangnya rasa toleransi karena fanatisme merupakan hal yang otomatis terjadi.

"Karena perasaannya ke dalam sehingga kalau ada yang dianggap menghalang-halangi kelompoknya atau merusak kelompoknya ya tindakan agresi. Kalau tidak terorganisir dan duduk dengan baik, muncullah agresi," sambung Drajat.

Ia mengatakan bahwa munculnya sikap tidak toleran terhadap orang-orang di luar kelompok karena fanatisme juga mendorong perilaku irasional.

Sehingga, mereka yang kadung fanatik dengan sesuatu dapat menyerang penegak hukum pemerintah, atau pihak lain yang dinilai mengganggu kelompoknya.

"Sehingga kemudian terjadi pengabaian terhadap norma-norma masyarakat," tutur Drajat.

Follow Berita Okezone di Google News

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini