Share

DRRC UI Berkolaborasi dengan Kemenparekraf Gelar FGD Identifikasi Risiko HSE dan Kebencanaan

Muhammad Refi Sandi, MNC Media · Selasa 04 Oktober 2022 11:36 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 04 65 2680227 drrc-ui-berkolaborasi-dengan-kemenparekraf-gelar-fgd-identifikasi-risiko-hse-dan-kebencanaan-dvQV2ptvy9.jpg Kolaborasi antara DRRC UI dengan Kemenparekraf/Istimewa

JAKARTA - Tim Peneliti dari Disaster Risk Reduction Center (DRRC) Universitas Indonesia (UI) berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI, melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Identifikasi Risiko Health, Safety, and Enivorenment (HSE) dan Kebencanaan Desa Wisata di hotel kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Kegiatan ini adalah upaya untuk meminimalisir risiko terjadinya becana baik dari alam maupun non alam.

Ketua DRRC UI, Fatma Lestari menyampaikan FGD ini dilaksanakan dengan melibatkan Dinas Pariwisata (Dispar) di 7 provinsi yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Timur, Bali, Sumatra Barat, dan Jawa Barat.

Difasilitasi oleh tim peneliti dari DRRC UI, mahasiswa, dosen, dan alumni Departemen K3 UI bersama dengan Kemenparekraf RI.

“Focus Group Discussion (FGD) Identifikasi Risiko HSE dan Kebencanaan ini kami lakukan bersama pelaku desa wisata di 7 provinsi. Difasilitasi oleh tim peneliti dari DRRC UI, mahasiswa, dosen, dan alumni Departemen K3 UI bersama dengan Kemenparekraf RI," ujar Fatma dalam keterangannya dikutip, Selasa (4/10/2022).

Fatma menambahkan hasil dari forum ini akan menjadi dasar Program Manajemen Risiko HSE & Bencana di lokasi wisata dan desa wisata yang targetnya kami implementasikan tahun 2022 ini.

"Dari FGD ini juga kita akan mengetahui risiko apa saja yang tertinggi dan menjadi prioritas agar penanganannya efisien dan tepat berbasis risiko," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Tata Kelola Destinasi Kemenparekraf, Indra Ni Tua menyampaikan bahwa Indonesia yang berstatus sebagai 'ring of fire' sebenarnya menjadi portofolio produk yang paling khas.

Upaya mitigasi risiko bencana pada tahap awal yang dilakukan ini sangat perlu meski harus dengan investasi yang lebih.

Indra menyebut metode yang sedang dilaksanakan sama seperti slogan yang diterapkan dalam Kemenparekraf oleh Menteri Sandiaga Uno yakni Kolaboraksi.

Menurutnya, Kemenparekraf menyadari bahwa kegiatan yang dilaksanakannya ini harus dibuat sustaniabel atau berkelanjutan.

“Akifitas manajemen krisis ini baru, kita sajikan untuk wisatawan dan pengelola tempat wisata. Prinsipnya adalah bagaimana kita mengimplementasikan, menyempurnakan, dan lebih berperan kedepannya. Bagaimana pengetahuan dan sifatnya dapat dilakukan secara ilmiah sehingga bisa kita implementasikan," ujar Indra.

Sebagai informasi, pelaksanaan FGD yang ditujukan untuk mengetahui risiko keselamatan dan kesehatan kerja, HSE, dan kebencanaan di 7 provinsi ini mencari datanya langsung kepada pelaku desa wisata.

Sehingga dapat diketahui dan didata kebencanaan apa yang terjadi berikut intensitas serta kerugian yang ditimbulkan.

Misalnya saja wisata tracking, peneliti dan tim akan menganalisa bagaimana kondisi jalurnya, apakah sudah dipasang rambu-rambu keselamatan, apakah jembatannya kokoh, juga dilihat bagaimana kesiapan dari sumber daya manusianya.

Adapun data kecelakaan yang terjadi diambil dari kegiatan sehari-hari.

Sebagai contoh untuk bidang HSE, yang akan dilakukan berupa pengecekan apakah sudah disediakan tempat cuci tangan, WC yang tersedia apakah bagus dan bersih, dan lainnya.

Dari K3 misalnya akan ditanyakan apakah ada pengunjung yang terjatuh, terpeleset dan seberapa sering hal tersebut terjadi.

Sementara untuk hal kebencanaan akan dilihat apakah rawan terjadi longsor, apakah sudah ada peringatan rawan longsor di sekitar jalur tracking.

Risikonya sendiri ditentukan dari setiap bencana yang terjadi di lokasi desa wisata.

Jadi hasil dari FGD diharapkan dapat dilihat secara detail, karena sampai saat ini data tersebut belum ada dan sangat dibutuhkan.

Tim yang terlibat juga benar-benar akan menggali karakter dari desa wisata di 7 povinsi yang dipilih.

Minimalnya hasilnya akan berguna di masa yang akan datang berupa desa wisata yang sudah terdata risiko apa saja yang ada beserta penanganannya dan siapa yang harus dihubungi serta bertanggung jawab.

Sebagai contoh ketika ada satu titik api di desa wisata, dari hasil FGD bisa beri solusi misalnya dengan menggunakan satelit, membuat menara pantau api.

Tujuan menganalisis risiko adalah untuk menerapkan mitigasi, preventif. daripada kuratif.

Jika sudah ada korban pastinya ada biaya yang dikeluarkan dan kerugian lain. Saat ini kita dapat mengatakan bahwa wisata bukan hanya sekedar tentang keindahan dan liburan melainkan juga risikonya.

Pergerakan alam di luar kemampuan manusia namun kita punya kesempatan untuk mengidentifikasi, inilah salah satu cara untuk mencapai smart tourism.

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini