5 Cerita Wisuda Lucu dan Unik di Kampus ITB, Ada yang Curhat Belum Dapat Jodoh!

Tim Litbang MPI, MNC Portal · Sabtu 20 November 2021 14:11 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 19 65 2504318 5-cerita-wisuda-lucu-dan-unik-di-kampus-itb-ada-yang-curhat-belum-dapat-jodoh-RKtkK2nq1S.jpg Ilustrasi wisuda. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Momen wisuda dinanti-nantikan para wisudawan yang telah selesai menempuh pendidikan di almamater tercinta, identik dengan suasana khidmat dan haru. Namun, tak jarang terselip pula cerita-cerita lucu yang muncul di acara ini.

Seperti halnya yang terjadi di gelaran wisuda Institut Teknologi Bandung (ITB). Berikut beberapa kisah lucu dan unik terkait proses wisuda yang pernah terjadi di ITB.

• Jawaban Survei Kocak

Seorang ilustrator asal Malang bernama YP (25) viral di media sosial karena membagikan ceritanya saat wisuda di almamaternya. Cerita ini beredar di akun Twitter-nya pada Senin (6/7/2020). YP membagikan sebuah video berisi rekaman wakil rektor ITB yang membacakan jawaban kuesioner tentang hobi dan cara belajar wisudawan selama berkuliah.

Dalam kuesioner tersebut, YP menjawab bahwa hobinya adalah menggambar dan mewarnai, mencari promo dan diskonan, hingga mengobrol dengan kucing. Selain itu, ia juga menjawab bahwa sisi negatif ITB adalah belum dapat jodoh.

Hal ini sontak jadi pemicu tawa di acara wisuda tersebut. YP mengaku, jawaban yang ditulisnya dalam kuesioner tersebut adalah jawaban jujur. Ia juga tidak menyangka jawabannya akan dipilih untuk dibacakan oleh wakil rektor ITB.

Baca juga: ITB Kembangkan Drone dan Bahan Baku Roket, Reaksi Prabowo Mengejutkan


Baca juga: Ini Cara Belajar Mahasiswa ITB Peraih IPK Tertinggi

• Sarjana ITB termuda

Musa Izzanardi Wijanarko adalah salah satu peserta Wisuda Ketiga Tahun Akademik 2020/2021 yang menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, ia berhasil menjadi sarjana ITB pada usia 18 tahun 8 bulan dan menjadi wisudawan termuda di ITB.

Melansir situs resmi ITB, ia merupakan mahasiswa Program Studi Matematika di Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam (FMIPA) yang mulai berkuliah tahun 2017. Sebelumnya, ia memperoleh pendidikan lewat homeschooling dan belum pernah mencicipi pengalaman menempuh pendidikan di sekolah formal. Karenanya, kesan pertamanya belajar di kelas terasa menyenangkan meski sedikit aneh.

• Pidato Kaum Rebahan

Sebuah akun TikTok mengunggah video berdurasi 51 detik yang berisi rekaman pidato mahasiswi asal FTI ITB berinisial M. Pidato yang ternyata berisi kesan pesan ini dibacakan oleh dosen dan mengundang gelak tawa tamu serta mahasiswa lain yang mendengarnya.

Dalam pidato tersebut, M mengatakan bahwa hobinya rebahan. Selain itu, rincian prestasi yang juga terkesan lucu. Ia mengatakan sejak SD sampai SMA selalu meraih juara satu, tapi setelah belajar sampai ubun-ubun mendidih di ITB, tetap tidak bisa meraih peringkat pertama.

• Tradisi Perang Air

Ada tradisi untuk menyambut para wisudawan di ITB, yakni perang air. Tradisi yang muncul atas keinginan alumni ini masih menjadi acara periodik yang selalu jadi tradisi dari tahun ke tahun. Melansir situs resmi ITB, cara bermain perang air sangat mudah.

Panitia dan alumni akan berada di satu kubu, sementara wisudawan membentuk kubu lain yang nantinya mereka saling berlomba melemparkan amunisi berupa kantong plastik berisi air. Permainan akan berakhir jika kedua kubu telah kehabisan amunisi.

• Kaum Dhuafa Wi-Fi

Pidato dari mahasiswa yang dibacakan rektor kembali menggelitik dosen, wisudawan, dan tamu yang hadir di acara wisuda ITB. Seorang mahasiswa berinisial DK menuliskan kesan pesan yang cukup menghibur.

Dari video yang beredar di media sosial, ia menyebutkan hobinya adalah belajar. Akan tetapi, kegiatan yang dimaksud adalah belajar untuk bermain game, nonton anime, hingga belajar menerima kenyataan bahwa “dia bukan miliknya lagi”.

Hal lain yang jadi sorotan adalah kesan dan pesan yang mengatakan bahwa “sistem kebut semalam” merupakan kekayaan khas bangsa Indonesia yang patut dilestarikan. Hal yang sama lucunya disampaikan pula melalui jawaban tentang sisi negatif ITB.

Menurutnya, menjalani kehidupan perkuliahan di sana membuatnya jadi kaum dhuafa wi-fi karena keterbatasan ruang belajar ITB yang tidak dibuka hingga malam.

*dilansir dari berbagai sumber 

Andin Danaryati/Litbang MPI

 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini