UNS Wujudkan Harmonisasi Melalui Kampus Benteng Pancasila

Neneng Zubaidah, Koran SI · Selasa 13 Juli 2021 13:18 WIB
https: img.okezone.com content 2021 07 13 65 2439898 uns-wujudkan-harmonisasi-melalui-kampus-benteng-pancasila-4kUzGalwnc.jpg Universitas Sebelas Maret (UNS) (foto: istimewa)

JAKARTA - Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof Dr Jamal Wiwoho membuka seminar nasional yang diprakarsai Pusat Pengembangan dan Pengelolaan Mata Kuliah Umum, LPPMP UNS dengan tema Moderasi Islam Untuk Mengukuhkan UNS Sebagai Kampus Benteng Pancasila pada Selasa (13/7/2021).

Jamal mengatakan, salah satu anugerah Tuhan bagi bangsa Indonesia adalah adanya dasar negara Pancasila dengan 5 prinsip dasarnya. 5 pinsip dasar ini, ujarnya, yang telah terbukti keampuhanya dalam menjaga serta merawat persatuan dan kesatuan bangsa dalam balutan harmoni kehidupan yang selaras dengan cita-cita para pendiri bangsa sejak Pancasila lahir 1 Juni 1945.

"Pancasila adalah suatu konsensus dasar yang menjadi syarat utama terwujudnya bangsa yang demokratis," katanya saat memberi sambutan melalui keterangan tertulisnya.

Baca juga:  Rektor UNS Terima Penghargaan Jasa Bakti Koperasi Tahun 2021

Indonesia pun adalah bangsa yang kaya akan keberagaman. Menurutnya, para pendiri bangsa ini mengakui, bahwa keragaman suku, budaya, ras, bahasa dan agama ini disamping menjadi kekuatan bangsa, akan tetapi sangat rentan terjadinya berbagai macam konflik yang bisa memicu perpecahan.

Sehingga untuk menjaga keutuhan dan persatuan negara Indonesia dibuatlah satu konsensus rumusan Dasar Negara, yang ditemukan dan digali dari nilai-nilai luhur kehidupan rohani, moral dan budaya masyarakat Indonesia sendiri, yang kemudian bernama Pancasila.

Baca juga:  3 Mahasiswa UNS Juara 1 Innovation Animal Science Competition

Jamal melanjutkan, Pancasila adalah ideologi yang terumuskan sebagai kesatuan proses. Sejak Pidato Soekarno 1 Juni 1945 pada Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) serta Sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang menghasilkan Piagam Jakarta 22 Juni 1945, hingga rumusan terakhir pada 18 Agustus 1945.

"Dua fase proses rumusan itu sebagai kesatuan proses, dan fondasi etik kesepakatan bagi seluruh peserta sidang. Sangat pantas kiranya jika Pancasila dan keutuhan NKRI adalah harga mati, karena keduanya merupakan kesatuan yang tak terpisahkan," ujarnya.

Maka dari itu, Jamal menerangkan, tidak salah kalau para pendiri UNS mencanangkan Kampus UNS merupakan Kampus Benteng Pancasila. Dimana ada keharmonisan kehidupan kampus yang ditandai dengan hidup rukun dan damai secara berdampingan, dengan mengedepankan nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan.

Jamal mencontohkan, UNS memiliki kompleks tempat ibadah yang berdiri berdekatan dalam satu kawasan. Yakni:, Masjid, Pura, Gereja, Vihara dan Klenteng. Kedekatan jarak rumah-rumah ibadah tersebut, ucapnya, ingin menunjukkan dan membuktikan kepada dunia bahwa agama seharusnya menjadi sumber ajaran untuk mewujudkan kerukunan dan perdamaian ketika diamalkan secara benar dan konsisten.

Menurutnya, secara umum keberhasilan meredam munculnya konflik antar pemeluk agama, sebenarnya diawali oleh adanya kesadaran untuk melakukan komunikasi yang tulus. Disertai kesadaran untuk hidup bersama berdampingan secara aman dan damai.

"Suasana seperti inilah yang ingin terus diwujudkan dan dilestarikan oleh seluruh pemangku pimpinan UNS beserta civitas akademikanya," tuturnya.

Iklim musyawarah dan mufakat, katanya, juga akan terus dikembangkan sebagai salah satu sistem budaya dalam setiap pengambilan keputusan yang dilakukan dalam semua level pimpinan di UNS.

"Kami meyakini bahwa menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan merupakan jati diri bangsa yang paling mendasar, dan itu merupakan implementasi dari Pancasila," pungkasnya. (din)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini