Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menristekdikti Curhat Dibully Gara-Gara Wacana Datangkan Rektor Asing

Taufik Budi , Jurnalis-Senin, 22 Juli 2019 |18:54 WIB
Menristekdikti Curhat Dibully Gara-Gara Wacana Datangkan Rektor Asing
Foto: Menristekdikti (Dok. Kemenristekdiktik)
A
A
A

SEMARANG – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M Nasir menceritakan pernah menjadi korban bully akibat rencana mendatangkan rektor luar negeri. Dia mengungkapkan, wacana tersebut untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Tanah Air.

Baca Juga: Sah, Akhirnya Indonesia Punya UU Sistem Nasional Iptek!

“(Tentang) Dosen asing ini muncul 2016, sekarang muncul lagi (isunya),” usai menghadiri Rapat Pleno Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Semarang di Kampus Universitas Stikubank (Unisbank) Semarang, Senin (22/7/2019).

Baca Juga: Cuma 85 Anggota DPR yang Hadiri Rapat Paripurna

Nasir menjelaskan, kualitas pendidikan tinggi di Indonesia cukup memprihatinkan. Sebab, dari banyaknya jumlah perguruan tinggi hanya sebagian kecil yang bisa masuk pada peringkat dunia internasional.

“Perguruan tinggi Indonesia ke jumlahnya 4.700. Dari 4.700 (perguruan tinggi) yang masuk daya saing dunia kita hanya ada tiga sampai sekarang. Pada saat saya sebagai menteri hanya dua. Dua itu juga di belakang di angka (peringkat) 400,” terangnya.

Untuk itu, Nasir menawarkan gagasan untuk mendatangkan dosen dan rektor dari luar negeri untuk mendongkrak kualitas pendidikan. Langkah tersebut juga merujuk pada sejumlah negara yang terlebih dahulu melakukan dan terbukti mampu mengangkat mutu pendidikan.

“Makanya saya coba tawarkan pada saat itu tahun 2016. Bagaimana mengundang rektor dari luar negeri menjadi rektor perguruan tinggi di Indonesia. Apa yang terjadi pada tahun 2016? Saya di-bully habis-habisan, para rektor se-Indonesia protes terhadap saya, dianggap sebagai bangsa inlander dan seterusnya,” beber dia.

“Kita belajar pengalaman negara-negara lain. Singapura maju perguruan tingginya, rektornya juga dari luar negeri, Taiwan maju karena rektornya juga dari luar negeri, China maju rektornya dari luar negeri. Bahkan Arab Saudi itu (peringkat) 800 aja enggak masuk, tapi sekarang rektornya dari Amerika dan dosennya 40% dari Amerika dan Eropa, sekarang masuk rangking berapa 189. Tadinya 800 aja enggak masuk,” tandasnya.

(Rani Hardjanti)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement