Share

Canggihnya Mesin Pendingin Ikan Tenaga Surya Buatan Mahasiswa ITS

Koran SINDO, · Minggu 16 Juni 2019 11:29 WIB
https: img.okezone.com content 2019 06 16 65 2066978 canggihnya-mesin-pendingin-ikan-tenaga-surya-buatan-mahasiswa-its-eUnSrB47A4.jpg Nelayan (Foto: Okezone)

Dia juga memanfaatkan limbah High Density Polyethylene (HDPE), plastik daur ulang sebagai pelapis dinding ES-PORT. Bahan HDPE terkenal sulit diuraikan, dengan daya tahan puluhan tahun, sehingga menjadi nilai tambah keramahan pada lingkungan.

“Harapannya, penggunaan untuk HDPE di bodi ikan kami itu juga bisa mendapatkan hasil yang baik dan perlu kita tahu bahwa HDPE itu food grade , jadi bisa kita gunakan,” tambahnya.

Agar suhu dingin dapat merata, mahasiswa ITS itu menambahkan es blue atau es gel di setiap dindingnya. Jika sistem pendingin hanya diletakkan di bagian tengah dan bagian dinding tidak dilapisi es gel, maka proses pendinginannya sangat lama dan belum tentu bisa merata.

“Es blue di dinding-dinding ESPORT fungsinya juga mendinginkan suhunya biar merata, jadi kiri, kanan, atas, bawah, semuanya ada es bluenya, sehingga pendinginan bisa merata,” kata ketua Red Team.

Saat ini, ES-PORT mempunyai kapasitas penyimpanan sebesar 70 liter, dengan suhu terdingin mencapai 9,4°C. kapasitas ini disesuaikan dengan kebutuhan nelayan di Surabaya, yang jenis ikannya tidak terlalu besar. Untuk wilayah luar Surabaya, ESPORT membutuhkan kapasitas penyimpanan yang lebih besar, karena ukuran ikan lebih besar dan jenisnya berbeda.

Jika dipaksakan dengan ukuran saat ini, pastinya tidak dapat di gu nakan dengan baik. “Solusinya bisa kita upgrade ukurannya, kalau nanti dikembangkan lebih besar itu sangat mungkin, sangat bisa, nanti tinggal menyuplai energi dan panel surya yang lebih besar,” tambah Reza.

Daya tampung ikan yang akan dikembangkan lebih lanjut berkisar antara 500-550 liter. Hal ini juga menyesuaikan dengan kebutuhan nelayan di suatu daerah tertentu. Sebenarnya, Reza dan kawankawannya tidak ingin membuat ESPORT berukuran besar.

Ukuran saat ini sudah cocok digunakan untuk para nelayan di wilayah Kenjeran, Surabaya. Selain itu, bahan untuk membuat ES-PORT sangat mudah cari, karena memiliki watt yang kecil.

Bentuknya juga memudahkan pemindahan ikan dari kapal nelayan ke tempat penjualan ikan menggunakan kendaraan roda dua (motor). Reza membayangkan jika pendingin ikan ini berukuran besar dan berada di daerah tertinggal, terdepan dan terluar (3T), akan sulit mendapatkan listrik.

Kekurangan suplai energi akan menyebabkan alat ini tidak dapat digunakan. “Sudah kita sesuaikan dengan watt yang kecil untuk menghidupkan dan mendinginkan penyimpanan ikan yang kami ciptakan,” imbuhnya.

Untuk menjaga kualitas ikan dari laut, para nelayan biasanya membutuhkan waktu satu hari untuk mencapai daratan atau sebelum ikan tersebut dijual. ESPORT menyesuaikan kebutuhan itu dengan bertahan selama kurang lebih dua hari.

Follow Berita Okezone di Google News

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini