Karya Legendaris Sastra Indonesia, AA Navis hingga Pramoedya Ananta Toer

Rani Hardjanti, Okezone · Minggu 28 Oktober 2018 09:09 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 26 65 1969387 karya-legendaris-sastra-indonesia-aa-navis-hingga-pramoedya-ananta-toer-o0MLqBBvlu.jpg Perpustakaan (Foto: Ist)

3. Buya Hamka, dengan karya “Di Bawah Lindungan Ka'bah”

Hamka adalah seorang  sastrawan Indonesia. Selain sebagai sastrawan, ia juga dikenal sebagai  ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik. Hamka adalah singkatan dari nama lengkapnya, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Dalam dunia kepengarangan, Hamka juga kadang-kadang menggunakan nama samaran, yaitu A.S. Hamid, Indra Maha, dan Abu Zaki.

Hamka lahir pada tanggal 16 Februari 1908, di Sungai Batang, Maninjau, Sumatera Barat. Ayahnya adalah Dr. Haji Abdul karim Amrullah, seorang ulama Islam yang sangat terkenal di Sumatera  dan pendiri Sumatera Thawalib di Padang Panjang, sedangkan ibunya  adalah  Siti Shafiyah Tanjung. 

Perceraian orangtuanya menyebabkan Hamka sudah harus berpisah dengan ibunya pada saat usianya baru menginjak enam tahun.

Baca Juga:  Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Penamaan Produk Mulai Ditinggalkan

Hamka mulai bersekolah  pada usia tujuh tahun di sekolah  dasar di Padang Panjang. Konon, karena nakalnya, ia tidak tamat dari sekolah itu. Akan tetapi, ia mendapat pelajaran agama dan mengaji. Dalam kurun waktu tujuh tahun (1916—1923) Hamka berhasil menamatkan pendidikan agamanya dari dua tempat, yaitu Diniyah School dan Sumatera Thawalib (milik ayahnya).

Sekolah yang didirikan oleh ayah Hamka itu menerapkan metode belajar-mengajar seperti metode yang digunakan di sekolah-sekolah agama di Mesir. Bahkan, buku-buku dan kurikulumnya pun disesuaikan dengan buku-buku dan kurikulum yang digunakan di sekolah Al-Azhar, Mesir. Gelar doktor ayahnya memang berasal dari sekolah Al-Azhar, Mesir.

Singkat cerita, banyak sekali pekerjaan yang sudah dilakoni Hamka di sepanjang hidupnya, dan dalam berbagai bidang pula. Hamka sudah menjadi seorang wartawan sejak tahun 1920-an dari beberapa suratkabar, seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Hamka juga bekerja sebagai guru agama di Padang Panjang (1927). Dia sempat tinggal di Makassar, Sulawesi Selatan. Di sana, Ia mencoba melacak beberapa manuskrip sejarawan muslim lokal dan menjadi peneliti pribumi pertama yang mengungkap secara luas riwayat ulama besar Sulawesi Selatan, Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari. Selain itu, ia juga menerbitkan majalah al-Mahdi di sana. Pada tahun 1934, bersama dengan M. Yunan Nasution di Medan, ia memimpin majalah mingguan Pedoman Masyarakat. Pada majalah itulah untuk pertama kalinya ia memperkenalkan nama Hamka.

Pada tahun 1959 Hamka mendapat anugerah gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas al-Azhar, Kairo atas jasa-jasanya dalam penyiaran agama Islam dengan menggunakan bahasa Melayu. Kemudian, pada tanggal 6 Juni 1974, kembali ia memperoleh gelar kehormatan tersebut dari Universitas Nasional Malaysia pada bidang kesusasteraan. Ia juga memperoleh gelar Profesor dari Universitas Prof. Dr. Moestopo. Selanjutnya, pada tanggal 26 Juli 1975, Musyawarah Alim Ulama seluruh Indonesia melantik Hamka sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama, ia memangku jabatan itu sampai tahun 1981.

Hamka adalah seorang otodidak dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Dengan kemahirannya berbahasa Arab, ia dapat meneliti karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah, seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, dan Hussain Haikal. Melalui kemampuannya berbahasa Arab itu juga, ia meneliti karya sastrawan Perancis, Inggris, dan Jerman, seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx, dan Pierre Loti. Hamka merupakan salah satu orang Indonesia yang paling banyak menulis dan menerbitkan buku. Oleh karena itu, ia dijuluki sebagai Hamzah Fansuri di era modern.

Belakangan, ia mendapat sebutan Buya (berasal dari bahasa Arab, abi atau abuya, yang berarti ayahku), sebuah panggilan yang ditujukan untuk seseorang yang dihormati. Ia juga  dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia setelah dikeluarkannya Keppres No. 113/TK/Tahun 2011, pada tanggal 9 November 2011.

Hamka meninggal dunia pada tanggal 24 Juli 1981, dalam usia 73 tahun, dan dikebumikan di Tanah Kusir, Jakarta Selatan.

Karya:

Novel

- Si Sabariah (dalam bahasa Minangkabau. Padang Panjang. 1926.

- Di Bawah Lindungan Ka'bah. Jakarta, Cet. I, 1938. Cet. VII,  1957.

- Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Cet. I, 1939. Cet. VIII. Bukittinggi: Nusantara. 1956. Cet. XIII.  1979.

- Laila Majnun. Jakarta, 1939.

Kumpulan Cerita Pendek

- Dalam Lembah Kehidupan.  Cet.I. 1941. Cet.V. Jakarta, 1958.

- Cermin Kehidupan. Jakarta, 1962.

4. Pramoedya Ananta Toer, dengan karya “Bumi Manusia”

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, tanggal 6 Februari 1925. Ayahnya adalah seorang guru yang mula-mula bertugas di HIS di kota Rembang, kemudian menjadi kepala guru di sekolah swasta di Boedi Oetomo sampai menjadi kepala sekolah tersebut. Ibunya anak seorang penghulu di Rembang. Pada tahun 1950 ia menikah dengan wanita yang sering datang ke penjara ketika ia di penjara.

Pramoedya Ananta Toer menamatkan pendidikan di sekolah rendah (sekolah dasar) Institut Boedi Oetomo di Blora. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan selama 1,5 tahun ke Sekolah Teknik Radio Surabaya (Radio Volkschool Surabaya) di Surabaya (1940—1941). Pada tahun 1942 Pramoedya pergi ke Jakarta. Ia bekerja di kantor Berita Jepang Domei sebagai juru ketik. Sambil bekerja, ia mengikuti pendidikan di Taman Siswa (1942—1943) dan mengikuti kursus di Sekolah Stenografi (1944—1945). Selanjutnya, ia kuliah di Sekolah Tinggi Islam Jakarta (1945) dalam mata kuliah filsafat, sosiologi, dan sejarah. Pada tahun 1945 ia keluar dari tempa kerjanya, yaitu Kantor Berita Jepang Domei dan pergi menjelajahi Pulau Jawa.

Pada tahun 1946 Pramoedya menjadi anggota Resimen 6 Devisi dengan pangkat letnan dua Tentara Keamanan Rakyat yang ditempatkan di Cikampek. Ia kembali ke Jakarta tahun 1947. Tanggal 22 Juli 1947 ia ditangkap marinir Belanda karena menyimpan dokumen gerakan bawah tanah menentang Belanda.

Kemudian, ia ditahan di penjara pemerintah Belanda di Pulau Edam dan di di Bukit Duri, Jakarta, sampai tahun 1949. Pada tahun 1950-1951 ia bekerja di Balai Pustaka sebagai redaktur. Pada tahun 1952 Pramoedya mendirikan dan memimpin Literary dan Fitures Agency Duta sampai tahun 1954.

Tahun 1953 ia pergi ke Belanda sebagai tamu Sticusa (Yayasan Belanda Kerja Sama Kebudayaan). Tahun 1956 ia berkunjung ke Peking, Tiongkok, untuk menghadiri peringatan hari kematian Lu Sun. Pada tahun 1958 Pramoedya Ananta Toer anggota Pimpinan Pusat Lembaga Kesenian Jakrta (Lekra) yang berada di bawah Partai Komunis Indonesia (PKI).

Baca Juga: Bahasa Indonesia Penting untuk Diperkuat dan Dibina

Keterlibatnnya dengan Lekra menjadikannya harus berhadapan dengan seniman yang tidak sealiran, terutama yang menentang PKI, seperti dalam penandatanganan Manifestasi Kebudayaan. Pada tahun 1962 ia menjabat redaktur Lentera. Selain itu, ia juga menjadi dosen di Fakultas Sastra, Universitas Res Publika, Jakarta, sebagai dosen Akademi Jurnalistik Dr. Abdul Rivai. Pada masa kejatuhan Partai Komunis Indonesia, Pramoedya dibuang ke Pulau Buru karena dianggap terlibat PKI yang saat itu PKI hendak menggulingkan pemerintah Republik Indonesia tanggal 30 September 1960. Ketika terjadi penangkapan terhadapnya, ia mendapatkan penyiksaan.

Setelah itu, ia dipenjara di Tangerang, Salemba, Cilacap, dan selama 10 tahun hidup di pengasingan Pulau Buru. Karyanya yang ditulis selama dalam pengasingan itu pada umumnya dilarang diedarkan oleh Kejaksaan Agung.

Setelah rezim Orde Baru jatuh, (1998), Pramoedya Ananta Toer dibebaskan dari pengasingan di Pulau Buru. Pramoedya Ananta Toer yang mengarang sejak tahun 1940-an telah menghasilkan banyak karya sastra, yaitu cerpen, novel, esai, dan karya terjemahan. Karya Pramoedya banyak yang sudah diterjemahkan dalam bahasa asing, yaitu Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Rusia, dan Jepang.

Karya :

a. Novel

- Sepuluh Kepala Nica (1946)

- Kranji Bekasi (1947)

- Perburuan (1950)

- Keluarga Gerilya (1950)

- Bumi Manusia (1980)

- Anak Semua Bangsa

b. Kumpulan Cerita Pendek

- Subuh (1950)

- Percikan Revolusi (1950)

- Cerita dari Blora (1952)

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini