Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tuntaskan Tuna Aksara, Kemdikbud Latih Keterampilan

Iradhatie Wurinanda , Jurnalis-Jum'at, 09 September 2016 |16:05 WIB
Tuntaskan Tuna Aksara, Kemdikbud Latih Keterampilan
Foto: Okezone
A
A
A

JAKARTA - Tingginya angka tuna aksara di sejumlah daerah di Indonesia menjadi salah satu faktor penyebab kemiskinan. Berdasarkan data, pada 2015 presentase tuna aksara berada di angka 3,56 persen atau sekira 5,7 juta orang.

Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Harris Iskandar menjelaskan, angka tuna aksara di Indonesia konsisten mengalami penurunan terhitung sejak masa awal kemerdekaan. Kendati demikian, persebaran tuna aksara masih cukup luas sehingga butuh penanganan khusus.

"Salah satu caranya dengan memberi keterampilan. Oleh sebab itu vokasi menjadi berperan penting. Jadi selain diberikan pengetahuan untuk melek aksara juga diberi keterampilan sesuai dengan potensi masing-masing untuk membantu kesejahteraan keluarga," ujarnya dalam konferensi pers Hari Aksara Internasional (HAI) di Kemdikbud, Jakarta, Jumat (9/9/2016).

Harris mengungkapkan, ada beberapa pembeda yang menyebabkan beberapa daerah angka tuna aksaranya tinggi. Beberapa di antaranya menyangkut lokasi, fasilitas, dan layanan pendidikan.

"Tempat lahir bisa mempengaruhi angka tuna aksara. Misalnya yang lahir di Jakarta dibandingkan dengan daerah terpencil, dengan layanan pendidikan yang berbeda. Kemudian keadaan itu diatasi melalui program lanjutan keterampilan, seperti keaksaraan usaha mandiri (KUM)," sebutnya.

Sedangkan Direktur Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan Kemdikbud, Erman Syamsuddin mengungkapkan, pengentasan tuna aksara melalui vokasi dinilai dapat menyentuh masyarakat luas. Menurutnya, saat ini ada tren bahwa masyarakat lebih suka dilatih keterampilan terlebih dahulu ketimbang belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung).

"Seluruh tuna aksara kalu disentuh dengan vokasi itu mau. Tujuannya agar mereka produktif dan berpenghasilan. Tetapi kalau disuruh calistung tidak mau, paling hanya sekali dua kali. Jadi sekarang strateginya dibalik, diajari keterampilan dulu supaya mereka tertarik, setelah itu baru terlihat kalau mereka belum bisa baca," pungkas Erman.

(Susi Fatimah)

Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita edukasi lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement