JAKARTA – Sosok Michael Bambang Hartono dikenal luas sebagai salah satu pengusaha paling sukses di Indonesia. Selain memimpin bisnis besar seperti Djarum, ia juga memiliki klub sepak bola Italia, Como 1907.
Menariknya, perjalanan hidupnya tidak hanya berkutat di dunia bisnis. Ia juga pernah mengharumkan nama Indonesia sebagai atlet bridge di ajang internasional.
Pada usia 78 tahun, Michael Bambang Hartono ikut memperkuat tim bridge Indonesia dalam Asian Games 2018 yang digelar di Jakarta dan Palembang.
Ia tampil di nomor supermixed team bersama sejumlah atlet nasional seperti Bert Toar Polii dan rekan lainnya. Dari ajang tersebut, tim Indonesia berhasil membawa pulang medali perunggu.
Tak hanya sebagai atlet, Bambang juga berperan dalam memperjuangkan agar cabang olahraga bridge bisa dipertandingkan. Awalnya, olahraga ini sempat ditolak oleh Olympic Council of Asia karena dianggap berkaitan dengan unsur perjudian.
Namun setelah penjelasan mengenai aspek strategi dan analisis dalam bridge, akhirnya cabang ini diterima sebagai bagian dari kompetisi resmi.
Di balik kesuksesannya, Michael Bambang Hartono memiliki latar pendidikan ekonomi.
Ia merupakan lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.
Program studi: Ekonomi dan Bisnis
Perguruan tinggi: Universitas Diponegoro
Tahun lulus: 1963
Usai menyelesaikan pendidikan, Bambang Hartono langsung terjun mengembangkan bisnis keluarga, yakni Djarum.
Ia melanjutkan usaha tersebut dalam kondisi yang tidak mudah, termasuk setelah pabrik sempat mengalami kebakaran. Namun berkat kerja keras dan strategi bisnisnya, Djarum berhasil berkembang menjadi salah satu perusahaan besar di Indonesia.
Meski telah mencapai kesuksesan besar, Bambang Hartono tetap menunjukkan kedekatannya dengan dunia pendidikan. Ia diketahui pernah memberikan orasi ilmiah dalam peringatan 60 tahun Fakultas Ekonomi dan Bisnis Undip.
Sosok Inspiratif
Perjalanan Michael Bambang Hartono menunjukkan bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh bisnis semata, tetapi juga didukung oleh pendidikan, ketekunan, serta kontribusi di berbagai bidang—termasuk olahraga.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)