Dirinya menyatakan, pihaknya sangat serius mendalami penelitian ini, termasuk mengenai pemilihan jenis mordan. Sudah mencoba berbagai cara, mulai dari mordan tawas, kapur, dan tunjung.
Hasilnya, mordan tawas memberikan hasil yang lebih maksimal dan cocok dengan bahan alami yang digunakan. Sementara, kulit yang digunakan untuk teknik ini adalah kulit domba samak jenis crust. Pemilihan ini tak lepas dari kelebihannya yang lebih lentur dan tidak mudah luntur.
"Penelitian ecoprint kami ini sedang proses didaftarkan untuk paten sederhana. Namun, sembari menunggu, kami juga mengabadikannya dalam beberapa event seperti program matching fund bersama UMKM Bululawang Malang. Hasilnya, masyarakat sangat antusias untuk memproduksi ecoprint tersebut karena di Desa Bululawang banyak pengrajin kulit yang masih monoton menggunakan warna hitam polos," tuturnya.
Ia bersama dengan timnya berharap, agar penelitian mengenai ecoprint dapat diterima baik oleh masyarakat. Mereka memiliki tujuan untuk membantu pengrajin kulit agar bisa lebih kreatif. Utamanya dalam hal warna, teknik, dan cara yang lebih ramah lingkungan.
"Untuk selanjutnya, saya sedang mencoba mengkombinasikan antara ecoprint dan ukiran, agar hasil akhirnya akan seperti daun yang nampak timbul. Sehingga makin terlihat menarik dan bagus," pungkasnya.
(Arief Setyadi )