Perempuan Asal Binjai Jadi Salah Satu Lulusan Terbaik Universitas AS

Agregasi VOA, Jurnalis
Kamis 10 Juni 2021 23:38 WIB
Perempuan asal Binjai jadi lulusan terbaik Universitas di AS (Foto : Istimewa)
Share :

Pada waktu itu ia mendapat tawaran untuk meneruskan studi di Melbourne, Australia. Kesempatan yang ada di depan mata langsung diambilnya. Namun, Doremi menyadari kelemahannya. Ia sama sekali tidak menguasai bahasa Inggris

Tanpa pikir panjang, ia pun langsung mendaftarkan diri untuk les bahasa Inggris secara intensif selama 10 bulan. Lagi-lagi kegigihannya dilirik oleh Viktor, yang lalu malah menganjurkan Doremi untuk menempuh S2 di Amerika Serikat.

Walau bimbang karena akan tinggal berjauhan dari keluarga, Doremi terus belajar bahasa Inggris, hingga lulus tes TOEFL, setelah 7 kali gagal.

Akhirnya Doremi menemukan kampus impiannya, universitas Northeastern yang menawarkan jurusan yang diminatinya.

“I like public relations, jadi Doremi penginnya ambil yang related,” jelas perempuan kelahiran Medan ini.

Walau peluang sudah terbuka, perjalanannya untuk meneruskan pendidikan di AS tidaklah mulus. Ia sempat titipu oleh agen yang mengatakan akan mendaftarkannya ke universitas tersebut.

“Dibohongi sama agency, uangnya dilarikan, karena katanya mau daftarin ke Northeastern, ternyata mereka enggak daftar tapi uangnya diambil,” kenang Doremi.

Terlepas dari semua itu, akhirnya Doremi terus maju sampai akhirnya berhasil diterima di universitas Northeastern, AS.

Bertahan di Udara Dingin

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di AS tahun 2018, Doremi langsung disambut udara dingin yang sangat bertolak belakang dengan di Indonesia.

“Subhanallah, udah enggak bisa lagi deh. Dingin banget. Akhirnya cari jalan sendiri gimana supaya ke dorm (red. asrama).” cerita Doremi.

Selama empat bulan, Doremi memilih untuk tinggal di asrama sebagai caranya untuk mempelajari kebudayaan Amerika, serta proses belajar para mahasiswanya.

Sebagai caranya lagi untuk beradaptasi dengan kehidupan kampus, Doremi lalu mendaftarkan diri ke program pra S2 di universitas Northeastern selama dua semester.

“Pada saat itu belajar American culture, belajar bagaimana cara menulis di graduate school, bagaimana cara membaca article or case study di graduate school. Jadi kayak build critical thinking sebagaimana anak S2 di Amerika,” jelasnya.

Beberapa bulan pertama, Doremi mengaku sempat mengalami gegar budaya dan rindu kampung halaman, ditambah lagi udara dingin yang membuat seluruh badannya gatal dan sakit setiap minggu.

“Tiap hari telepon sama orang tua kan, video call. Alhamdulillah teknologi (memecahkan) segalanya,” kata Doremi.

Belajar Mandiri di Amerika

Tinggal di negara yang asing baginya memaksa Doremi untuk belajar lebih mandiri dan menghargai orang lain. Pasalnya, Doremi harus tinggal di kamar asrama kecil, bersama beberapa teman yang berasal dari negara yang berbeda. Tanpa disangka, hal ini meninggalkan kesan tersendiri baginya.

“Doremi satu kamar sama orang Korea, yang kita literally punya different culture. Jadi kita punya dua tempat tidur, kita punya dua desk, dorm kita kecil banget. Jadi mau telepon harus suaranya kecilin dikit. Mau ke kamar mandi juga harus bersihin kamar mandinya, karena supaya roommate yang lain bisa (pakai), bisa bersih,” kata Doremi.

Hal ini mendorongnya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan kuat.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya