“Dalam UUD kita salah satu tujuan negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa bukan mencerdaskan otak. Dalam kecerdasan kehidupan ada kecerdasan watak, emosional, spiritual, sedangkan kecerdasan yang satunya adalah otak. Jadi, disitu bertemu kecerdasan otak dan watak, kemuliaan watak dan keunggulan otak. Disitulah yang disebut intelektual, disitulah yang disebut sarjana,” jelas Mahfud MD.
Untuk mewujudkan pribadi sarjana yang sujana diperlukan juga sifat kritis. Sifat kritis yang dimaksud Mahfud MD dapat dibuktikan dengan mempertanyakan langkah-langkah yang akan diambil secara faktual dan logika. Mahfud MD juga menggarisbawahi seorang sarjana harus mencari jalan antara idealisme dan realisme. Karena diantara kedua hal tersebut terdapat sifat kritis.
Di akhir sambutannya, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) periode 2008-2013 tersebut menitipkan pesan agar lulusan UNS juga berani untuk mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dibangku perkuliahan.
"Lulusan perguruan tinggi yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah. Ilmunya bisa diamalkan tidak hanya diawang-awang. Karena banyak orang omong-omong tapi tidak bisa dilaksanakan tetapi ada orang yang terlalu praktis amal/ pekerjaannya tapi tidak punya dasar-dasar ilmiah. Lulusan perguruan tinggi adalah lulusan yang berilmu amaliah dan beramal ilmiah berbuat sesuai tuntutan-tuntutan ilmu,” tandas Mahfud MD.
(Fetra Hariandja)