Prototipe Baterai Nuklir Mulai Dikembangkan

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis
Kamis 28 November 2019 12:51 WIB
Dahlan Iskan Tinjau Prototipe Baterai Nuklir. (Foto: Okezone.com)
Share :

JAKARTA - Prototipe baterai nuklir mulai dikembangkan oleh Tim peneliti Departemen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada (UGM). Prototipe baterai nuklir dapat digunakan untuk peralatan elektronik.

Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh 4 orang dosen serta 6 asisten peneliti ini ditinjau langsung oleh mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

“Beliau ingin agar dari teknologi nuklir Indonesia ada sesuatu yang bisa di-create, tidak hanya teoretis. Ini bukti kami sudah melakukan sesuatu yang ada hasilnya, walaupun masih kecil itu tinggal scale-up saja,” terang Ir. Yudi Utomo Imardjoko, M.Sc., Ph.D selaku ketua tim peneliti, seperti dikutip dari laman UGM, Kamis (28/11/2019).

Baca Juga: UGM Ciptakan Alat Rontgen Digital Murah Meriah

Dalam 2 tahun terakhir, proyek penelitian ini mendapat pembiayaan dari Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan dan telah selesai dilaksanakan. Meski belum sempurna dan masih memerlukan pengembangan lebih jauh, prototipe yang dihasilkan menurutnya sudah cukup baik jika dibandingkan dengan hasil penelitian lainnya.

“Ini kan masih kecil. Efisiensinya masih kecil walaupun cukup tinggi jika dibandingkan dengan tempat lain,” kata Yudi.

Penelitian ini, ujarnya, terkendala biaya komponen plutonium 238 yang cukup mahal karena harus diimpor. Untuk membuat prototipe tersebut, tim ini harus mendatangkan plutonium dari Rusia dengan harga yang mencapai 8.600 dolar per keping.

“Harga per keping hanya 12 dolar, tapi begitu sampai sini harganya itu 8.600 dolar per keping,” terangnya.

Baca Juga: Periode Kedua Jokowi Diharapkan Mampu Ciptakan SDM Unggul

Terkait kendala tersebut, Dahlan Iskan menuturkan bahwa hal itu bisa diatasi jika Indonesia memiliki reaktor torium sendiri karena plutonium merupakan limbah dari torium. Selama ini kebutuhan plutonium harus diimpor dari luar negeri dengan harga yang mahal karena Indonesia belum memiliki torium.

“Sebetulnya kita bisa tidak impor lagi kalau kita sudah punya reaktor torium. Reaktor torium itu desainnya sudah jadi, dibuat oleh bapak-bapak ahli nuklir ini, kebetulan itu saya yang mendanai. Desainnya sudah jadi, tinggal bagaimana cara mewujudkannya,” paparnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Edukasi lainnya