Di masa pergerakan nasional, para pemuda hanya berpikir bagaimana cara agar Indonesia merdeka. Taruhannya, lanjut dia, adalah antara hidup dan mati. Sedangkan sekarang, tantangannya adalah apakah mereka mampu bersaing atau tidak.
"Dulu misalnya musuhnya hanya penjajah, tetapi sekarang adalah semua negara," sebutnya.
Sebagai salah satu orang yang peduli dengan sejarah, Sujiman menyayangkan sulit menemukan pemimpin yang mampu menjadi contoh dan teladan di era sekarang. Bagaimana tidak, para pemimpin yang sebagian dari kalangan muda tak jarang melakukan tindakan korupsi atau narkoba. Padahal, seharusnya tugas mereka adalah sebagai panutan bagi masyarakat luas.
"Seharusnya pemimpin itu menjadi contoh. Kalau dulu zaman perjuangan pemimpin itu tugasnya ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Nah, itulah yang harus diperbaiki," terangnya.
Peringatan Hari Kebangkitan Nasional, imbuh dia, memasuki usia ke-108. Dia berharap, para generasi muda dapat memaknai hari bersejarah tersebut sebagai semangat baru untuk menghadapi tantangan di masa depan. Menurut dia, maju dan besarnya suatu bangsa bergantung pada para pemudanya.
"Mari kita belajar masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kalau kita lupa sejarah, maka peristiwa terdahulu akan terulang lagi karena kita tidak belajar dari kejadian sebelumnya," pungkasnya.
(Rifa Nadia Nurfuadah)