JAKARTA - Monica Chandra, merupakan warga Indonesia yang lahir di Surabaya. Setelah menuntaskan pendidikan S1 di AS, dia melanjutkan kuliah di Lulusan Universitas Heidelberg. Dia menekuni ilmu biologi sel dan molekuler. Monica kini bekerja pada startup Jerman yang meracik antibodi penyasar sel kanker dan opioid.
Lewat akun Instagram miliknya, Monica membagikan kesan dan pesan usai diwawanfara oleh kantor berita Jerman, Deutsche Welle, di Indonesia. Dalam wawancaranya, dia bercerita tentang bagaimana dia bisa berakhir di Jerman.
BACA JUGA:
"Pekerjaan saya sebagai ilmuwan di sebuah perusahaan farmasi, berharap dapat membuat perbedaan dalam perawatan kesehatan," tulisnya di akun Instagram, dikutip Rabu (9/8/2023).
"Wawancara itu pasti memberi saya kilas balik besar selama 14 tahun saya jauh dari rumah. Pindah ke negara-negara yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, berkeliling dunia, mendapatkan gelar doktor, hanyalah beberapa hal yang telah saya lakukan. Saat remaja, saya di kampung halaman di Indonesia bahkan tidak akan bermimpi untuk mencapai apa yang telah saya selesaikan sekarang. Tapi saya dapat mengatakan sekarang bahwa .. SAYA BERHASIL! Dan jika seseorang bertanya apakah layak menghabiskan masa muda saya untuk hal-hal itu, saya akan menjawab.. YA! Saya harap cerita saya akan menginspirasi lebih banyak anak muda, terutama perempuan, untuk mengejar karir di STEM," tulisnya.
BACA JUGA:
Laporan Deutsche Welle menyebutkan sekarang dia bekerja pada sebuah perusahaan startup, di Heidelberg, yang terutama bergerak di bidang pembuatan antibodi untuk terapi kanker dan ketergantungan pada narkotika. Dia menempuh kuliah S1 di Amerika Serikat, tepatnya di University of California, Berkeley. Sedangkan S2 dan S3 ia tempuh di Universitas Heidelberg, di Jerman Selatan.
Mulai S1 sampai S3 dia sudah menggeluti bidang molecular and cell biology atau biologi sel dan molekuler. Monica bercerita, sejak SMA dia memang sudah sangat menggemari pelajaran biologi.
Di AS, dia memutuskan untuk menggeluti biologi sel dan molekuler. Supervisor atau pembimbingya di laboratorium di AS juga orang Jerman. Ia yang menyarankan Monica untuk mengirimkan lamaran ke Universitas Heidelberg. Setelah berbincang-bincang dengan profesor di Heidelberg, akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan S2 di Heidelberg.
Ketika berkuliah S2 di Heidelberg, dia juga sempat bekerja sampingan di klinik universitas, sebagai research assistant, atau asisten riset. Monica merasa beruntung ketika mendapat pekerjaan di perusahaan tempat dia bekerja sekarang.
BACA JUGA:
"Waktu itu pas banget, profesor yang mengajar aku waktu Ph.D. lagi punya proyek. Dia menjoinkan [menggabungkan] beberapa scientist [ilmuwan] untuk mendirikan start up ini," ucapnya kepada DW.
Dia menjelaskan, perusahaan membuat antibodi, tepatnya therapeutic antibody, atau antibodi untuk kebutuhan terapi. Yang jadi target antibodi adalah hal-hal yang ukurannya sangat kecil sehinga tidak kasat mata.
(Marieska Harya Virdhani)
Edukasi Okezone hadir dengan Informasi terpercaya tentang pendidikan, tryout ujian, dan pengembangan karier untuk masa depan yang lebih baik