Share

Syekh Sulaiman Ar-Rasuli: Ulama Pendidik dari Tanah Minang

Muhammad Fadli Rizal, Okezone · Senin 24 April 2023 07:15 WIB
https: img.okezone.com content 2023 04 21 624 2802042 syekh-sulaiman-ar-rasuli-ulama-pendidik-dari-tanah-minang-yI0Rbytygt.jpg Inyak Canduang (Wikipedia)

JAKARTA - Syekh Sulaiman Arrasuli menjadi salah satu alim ulama legendaris dari tanah Minangkabau. Sulaiman alias Inyak Canduang itu lahir di Candung (Agam, Sumatra Barat) pada 1871.

Tekad dan kebesaran Sulaiman sedikit banyak berasal dari ayahnya, Angku Muhammad Rasul. Angku juga dikenal sebagai ahli agama Islam kala itu. Sementara ibunya bernama Siti Buli'ah.

 BACA JUGA:

Sulaiman mendapat pelajaran tentang agama dari beberapa guru. Antara lain, Syekh Muhammad Arsyad (Batu Hampar), Tuanku Sami’ Ilmiah (Baso), Tuanku Kolok (Batusangkar), Syekh Abdussalam (Banuhampu), dan Syekh Abdullah (Halaban). Selama bertahun-tahun ia belajar dari satu guru ke guru yang lain.

Perjalanan hidup Sulaiman diabadikan dalam buku Nyiak Sang Pejuang karya Khairul Jasmi.

Jasmi menulis, pada 1903 Sulaiman pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Kesempatan itu juga dimanfaatkannya untuk menuntut ilmu selama di Tanah Suci. Dari guru-guru di tanah suci, Sulaiman mendapat ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah, dst), ilmu hadits, ilmu tafsir Alquran, mantiq, fiqih, tasawuf, dan tauhid.

 BACA JUGA:

Kemudian pada 1907, Syekh Sulaiman ar-Rasuli kembali ke Tanah Air. Dia pun mengamalkan ilmu-ilmu yang telah diperolehnya sampai sejauh ini kepada masyarakat setempat, terutama melalui surau. Surau merupakan lembaga pendidikan tradisional di Sumatra Barat.

Follow Berita Okezone di Google News

Secara fisik, sebuah surau biasanya berbentuk masjid kecil yang berbahan dasar kayu dan beratap ijuk. Di Candung, Angku Muhammad Rasul sebelumnya telah mendirikan Surau Tengah. Adapun surau yang didirikan Syekh Sulaiman dinamakan sebagai Surau Baru.

Sejak saat itu, dia kerap disapa “Inyiak Canduang”. Sebutan inyiak merupakan bentuk penghormatan, sebagaimana kiai haji dalam tradisi Jawa. Sementara, Canduang merujuk pada lokasi surau tempat sang syekh mengajar.

 BACA JUGA:

Sejak saat itu, Syekh Sulaiman berjasa dalam mereformasi sistem pendidikan di Sumatra Barat. Dia mengubah metode halaqah menjadi model jenjang kelas, yang biasa dijumpai pada sekolah-sekolah modern saat ini.

Masih dalam bidang pendidikan, Syekh Sulaiman bersama dengan sejumlah ulama Kaum Tua di Candung mendirikan Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI).

Menyusul MTI Candung itu, yang merupakan MTI tertua di Sumatra Barat, maka berdirilah berturut-turut MTI di Jaho yang dikelola oleh Syekh Muhammad Jamil Jaho dan MTI Tabek Gadang Payakumbuh yang diasuh Syekh Abdul Wahid Shaleh. Ketiga MTI tersebut kelak disebut sebagai tiga serangkai, dan menjadi inspirasi bagi lahirnya berbagai MTI di seluruh Indonesia.

Pada 1 Agustus 1970, Syekh Sulaiman ar-Rasuli meninggal dunia di usia 99 tahun. Kala itu, puluhan ribu orang dari dalam dan luar negeri mengiringi pemakamannya.

Selama hidup dan sesudah wafatnya, sang syekh mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Beberapa di antaranya, pada 1969 dia disebut sebagai salah seorang perintis kemerdekaan. Kemudian, pada 1975 gubernur Sumatera Barat waktu itu memberi gelar Sulaiman sebagai Ulama Pendidik.

1
3
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini