Share

Memaksimalkan Fungsi dari Memori Individu dengan Mengonsumsi Informasi 'Secukupnya'

Dimas Adytya Putranto, Presma · Rabu 07 Desember 2022 17:42 WIB
https: img.okezone.com content 2022 12 07 624 2722587 memaksimalkan-fungsi-dari-memori-individu-dengan-mengonsumsi-informasi-secukupnya-8fDGa4N7jY.jpg Ilustrasi/Unsplash

JAKARTA - Sudah menjadi keharusan kita untuk mensyukuri apa yang telah Tuhan beri. Salah satunya adalah anggota tubuh beserta fungsi-fungsinya yang canggih.

Mungkin pernah terbesit di dalam otak kita, bagaimana caranya Tuhan bisa memikirkan bahwa untuk mencerna protein, Ia menciptakan sebuah enzim yang kita namakan lipase di dalam pankreas kita.

Mungkin itu adalah bentuk nyata dari kebesaran Tuhan, tapi terkadang, kalau dipikirkan memang sungguh menarik dan luar biasa. Selain enzim-enzim yang esensial sekali untuk metabolisme tubuh kita, Tuhan juga menciptakan sesuatu di dalam manusia yang membedakan kita dari makhluk lain, yaitu akal dan budi.

Dilansir dari Spada UNS, akal adalah kemampuan pikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki manusia.

Ngomong-ngomong soal akal, kita akan mendalami lagi soal organ tubuh kita yang gunanya untuk memfungsikan sistem dari akal, yaitu otak.

Lebih dalam lagi, kita akan membahas salah satu piranti canggih yang ada di otak, yaitu memori. Saya memilih kata canggih karena menurut saya, keberadaan memori sangat mempengaruhi bagaimana kehidupan manusia saat ini.

Follow Berita Okezone di Google News

Tidak akan ada orator-orator yang mengubah dunia tanpa memori yang mereka gunakan untuk mengartikulasikan gagasan yang pernah terbesit di kepala mereka.

Tidak akan ada musisi-musisi hebat yang tersebar di seluruh dunia sekarang karena tanpa memori, mereka tidak akan ingat bagaimana cara memainkan intro lagu yang ingin mereka mainkan.

Kalau kedua contoh itu belum cukup, tanpa memori, percakapan sehari-hari yang ada di rumah bersama dengan orang tuamu akan diisi dengan pertanyaan “siapa namamu dan mengapa aku di sini bersamamu?”.

Terlalu jauh, tanpa memori, bahasa pun tak akan pernah bisa kamu kuasai. Saya kira contoh-contoh itu cukup untuk menggambarkan betapa canggihnya memori yang ada di dalam otak manusia.

Pertama-tama, ada baiknya kita membahas terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan memori agar pemahaman kita sama sedari awal. Memori atau yang dikenal oleh Bahasa Indonesia sebagai daya ingat adalah suatu hal yang penting bagi manusia karena merupakan kekuatan jiwa manusia untuk menerima, menyimpan, dan mereproduksi kesan-kesan, pengertian-pengertian, dan tanggapan.

Lalu, berdasarkan jangka waktu dari tinggalnya informasi yang berada di dalam diri manusia, memori terbagi atas dua jenis, yaitu memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Kalau memori jangka pendek digunakan untuk menyimpan informasi yang temporer atau hanya dalam beberapa saat, memori jangka panjang adalah memori yang menyimpan informasi-informasi jangka panjang dan bisa bertahan selama bertahun-tahun.

Cara bekerja memori jangka pendek dan memori jangka panjang juga bersifat saling berkesinambungan.

Misalnya, ketika informasi lama yang sudah tersimpan di dalam memori jangka panjang itu terdorong oleh masuknya informasi-informasi baru maka pilihan untuk informasi lamanya adalah antara terbuang atau di-transfer untuk masuk ke dalam memori jangka panjang.

Hal ini dikarenakan memori jangka pendek memiliki batasan yang menurut berbagai macam penelitian tidak jarang melebihi delapan item.

Hipotesis tersebut ternyata diperkuat oleh seseorang Bernama George A. Miller yang mencoba mendalami seberapa besar sebenarnya kapasitas otak kita dalam memproses sebuah informasi.

Ia menuliskan sebuah artikel terkenal yang berjudul “The Magical Number Seven, Plus or Minus Two”, dasar dari karya tulisnya tersebut adalah sebuah penelitian oleh seseorang bernama Jacobs yang menemukan bahwa seseorang rata-rata hanya bisa menghafalkan 7,3 huruf dan 9,3 kata.

Keterbatasan ini dianggap Miller karena manusia memiliki sebuah mekanisme yang disebut short-term memory.

Menurut seseorang psikolog kognitif dari Universitas Missouri yang beranama Nelson Cowal, disebutkan bahwa dalam jangka panjang, memori itu dikodekan ke dalam pola-pola syaraf dan kemampuan otak kita dalam mengaitkan pola-pola itu tidak terbatas, jadi, secara teori, jumlah memori yang ada di dalam pola-pola itu juga tidak terbatas.

Jadi, sebenarnya kalau sebuah informasi sudah berada di long-term memory akan lebih sulit untuk dilupakan ketimbang ketika informasi baru masuk di dalam short-term memory.

Bahkan, informasi yang sudah berada di memori jangka panjang, sekalinya kita melupakannya maka suatu saat akan kembali teringat apabila kita menemukan tanda-tanda pengingat yang membawa kita kepada informasi yang sebelumnya ingin kita lupakan itu.

Mengingat diperlukan latihan pemeliharaan yang menjaga pengulangan informasi serta latihan elaboratif untuk mendorong informasi dari STM (Short-Term Memory) dan LTM (Long-Term Memory) maka bisa dibilang memori kita memang memiliki batasan.

Sebab, sebelum menuju LTM yang dikenal tidak memiliki batasan, informasi harus terlebih dahulu diproses di dalam STM.

Oleh sebab itu, demi memaksimalkan kinerja memori kita, diharapkan setiap individu cukup untuk mengonsumsi hal-hal yang sekiranya penting bagi hidupnya karena keterbatasan memori jangka pendek dalam mengumpulkan informasi bisa menyebabkan hal-hal yang sebenarnya penting jadi terlupakan karena terdorong keluar oleh informasi baru yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Dimas Adytya Putranto

 

Aktivis Persma Erythro FK UNS

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini