Share

Mengenal Hustle Culture: Sebuah Budaya Kerja Keras yang Berlebihan

Kaisha Alleyda Sulistyo, Presma · Rabu 16 November 2022 08:21 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 16 65 2708403 mengenal-hustle-culture-sebuah-budaya-kerja-keras-yang-berlebihan-n9tojwhEfF.jpg Ilustrasi/Unsplash

JAKARTA - Akhir-akhir ini, hampir setiap orang berlomba-lomba untuk meraih tujuan dengan usaha apapun sehingga segala sesuatu dikerjakan dengan bentuk kerja yang sangat keras.

Sering juga dikenal dengan hustle culture, budaya kerja berlebihan ini menanamkan kepercayaan kepada individu bahwa usaha yang keras adalah satu-satunya cara untuk meraih kesuksesan.

Sebuah ilusi yang dipercaya oleh sebagian besar orang adalah ketika menganggap fase bekerja berlebihan merupakan sesuatu yang produktif, dielu-elukan sebagai gaya hidup, serta dianggap sebagai pijakan meraih tujuan yang ideal.

Jika direnungkan, apakah memprioritaskan segala pekerjaan dapat menjadi jaminan kesuksesan? Apakah Anda benar-benar sedang bekerja?

Apa Itu Budaya Kerja Berlebihan?

Hustle Culture atau budaya kerja berlebihan merujuk kepada sebuah budaya yang dipahami oleh individu sebagai tekanan untuk terus bekerja hingga lelah, tanpa istirahat, dan bertujuan hanya untuk menghasilkan uang dan produktif.

Budaya ini juga memaksa individu untuk membentuk ekspektasi yang tidak realistis dalam meraih kesuksesan, sehingga yang seharusnya kegiatan berjalan secara produktif dan efektif malah cenderung berdampak kepada kesehatan mental.

Individu yang berpegang pada budaya ini seringnya disebut dengan workaholic. Individu ini biasanya telah kecanduan untuk bekerja dan masalah paling ketara yang dialami oleh individu ini adalah kelelahan dan kurang tidur.

Dikutip dari Channel News Asia, negara dengan penduduk yang memiliki budaya kerja berlebihan tinggi pada tahun 2022 ini adalah Singapura.

Singapura sendiri memiliki rata-rata jumlah jam kerja per-tahunnya selama 2.238 jam. Durasi ini lebih lama dari jam kerja pekerja dari negara China dan Jepang.

Korelasi Negatif dari Budaya Kerja Berlebihan

Budaya kerja berlebihan ini seringnya diagung-agungkan oleh beberapa orang dan membagikannya dalam sosial media.

Terlebih lagi orang-orang yang masih berpegang teguh dalam budaya ini membagikan doktrin dengan mengatakan bahwa “semua orang lelah, tetapi bukan berarti harus menyerah secara mudah” atau “jika kamu terus-terusan mengeluh, kapan kamu akan meraih kesuksesan?” dan lain sebagainya.

Pernyataan sebelumnya tentu merupakan sebuah kebohongan. Kita tidak dapat untuk menyamakan kemampuan fisik maupun mental seseorang dengan milik kita sendiri.

Budaya ini semakin diperparah dengan situasi pandemi dan teknologi di mana komunikasi tidak memerlukan interaksi langsung atau face-to-face, tetapi dapat dilakukan dengan pertemuan online, komunikasi telepon, atau mengirimkan pesan.

Kemudahan ini kadang kala dapat menekan seseorang untuk mengerjakan pekerjaannya di luar ketentuan jam kerja.

Hubungan toksik antara budaya kerja berlebihan dengan individu dibuktikan berdasarkan survei yang dilakukan oleh Mental Health Foundation bahwa sekitar 14.7% pekerja di UK memiliki pengalaman buruk atau masalah terkait kesehatan mental karena stres kerja.

Stres kerja dapat dipicu oleh beberapa situasi yang dihasilkan oleh budaya ini, seperti tidak adanya waktu untuk bersosial atau urusan personal, tingginya jam kerja melebihi ketentuan normal, dan mengutamakan segala urusan pekerjaan di atas urusan pribadi.

Stres kerja atau seterusnya dapat kita sebut dengan burnout memiliki dampak negatif terhadap diri sendiri juga sebuah perusahaan yang dinaungi oleh individu tersebut.

Burnout menyebabkan pekerja menjadi pesimis untuk bekerja, sehingga motivasi dan energi yang seharusnya dapat untuk menjalankan sebuah pekerjaan berkurang secara signifikan.

Menurut Dr M. Tasdik Hasan, peneliti kesehatan mental skala global, berpendapat bahwa korelasi antara kerja berlebihan dengan kesehatan mental jarang disadari.

Padahal, jadwal kerja yang padat merujuk pada gangguan ritme biologis tubuh sehingga berdampak signifikan terhadap efisiensi kerja, pola tidur, perubahan perilaku, stres, depresi, obesitas, hipertensi, dan mungkin jadi masalah komplikasi jantung.

Pada intinya, budaya kerja yang berlebihan melahirkan korelasi yang negatif terhadap diri dan hubungan yang ‘toksik’, baik antar karyawan maupun ke perusahaan itu sendiri.

Lingkungan yang cenderung menekan individu tentu tidak mungkin menghasilkan individu yang produktif.

Untuk mewujudkannya, perlu untuk membentuk lingkungan yang mendukung dan bentuk persaingan yang sehat sehingga dapat memotivasi karyawan untuk melakukan yang lebih baik.

Bentuk persaingan sehat ini tentu harus mencangkup keadilan dalam memberikan imbalan atau penghargaan serta tidak adanya menjatuhkan satu dengan yang lain.

Kaisha Alleyda Sulistyo

Aktivis Persma Eryhthro FK UNS

1
3

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini