Share

Dua Sisi Quiet Quitting, Fenomena yang Sedang Digemari Anak Muda Menurut Dosen Unair

Tim Okezone, Okezone · Selasa 20 September 2022 08:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 19 65 2670728 dua-sisi-quiet-quitting-fenomena-yang-sedang-digemari-anak-muda-menurut-dosen-unair-LIsxo7YMpZ.jpg Dosen FPsi Unair, Reza Lidia Sari S.Psi, M.Si/Dok. Unair

SURABAYA - Fenomena quiet quitting baru-baru ini menjadi sebuah topik yang hagngat dibicarakan.

Quiet quitting adalah perilaku membatasi diri untuk tidak melakukan hal-hal yang lebih di tempat kerja. Fenomena ini pun digadang-gadang menjadi tren baru yang diminati oleh Gen Z dan Millenial.

Dosen Fakultas Psikologi (FPsi) Universitas Airlangga (Unair), Reza Lidia Sari S.Psi, M.Si menjelaskan bahwa quiet quitting merupakan respons perlawanan dari hustle culture yang menganggap pentingnya dedikasi yang amat tinggi pada pekerjaan.

“Perilaku ini berkebalikan dengan extra-role behavior di mana seseorang berkenan mengerjakan pekerjaan di luar job desc-nya demi kelancaran sistem organisasi,” jelasnya dikutip dari laman resmi Unair, Senin (19/9/2022).

Dosen mata kuliah Psikologi Organisasi dan Industri itu menyebutkan bahwa sejatinya quiet quitting bukan perilaku yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk.

“Masing-masing perilaku memiliki kelebihan dan kekurangannya,” sebutnya.

Work Life Balance dan Mengatasi Burn Out

Saat membatasi pekerjaan sesuai dengan porsinya, seseorang dianggap dapat menciptakan kondisi work-life balance.

Kondisi ini membatasi antara dunia kerja dan dunia non kerja yang menjadi situasi idaman bagi kebanyakan Gen Z dan Milenial.

“Selain itu, tren ini dianggap sebagai hal yang positif karena dapat secara efisien memaksimalkan jam kerja tanpa harus lembur,” lanjutnya.

Quiet quitting juga menjadi salah satu mekanisme koping untuk mencegah overwork.

“Bisa menjadi jalan keluar untuk pulih dalam burnout dalam bekerja, menarik diri sejenak untuk mengatur ritme kerja yang lebih baik,” jelasnya.


Jenjang Karier dan Konflik Organisasi

Menurut Reza, secara individual perilaku quiet quitting dapat menyebabkan seseorang kurang termotivasi dalam menjalankan perannya sebagai karyawan.

Akibatnya, kecilnya kontribusi yang diberikan kepada perusahaan akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan jenjang karier.

Selain itu, Reza juga menyebutkan bahwa dalam organisasi, perilaku ini dapat menyebabkan konflik antar karyawan.

“Kecemburuan sosial dapat timbul ketika melihat perbedaan beban atau waktu pulang yang berbeda, untuk itu sebelum timbul konflik sosial, pemimpin organisasi harus peka terhadap situasi ini,” sarannya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini